7.22.2011

Dua Trinitatis 2011

KHOTBAH MINGGU 2 TRINITATIS, 3 JULI 2011
Im.25:1-10


Saudara-saudara di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, Juruselamat dan Penebus kita!

Sebelum pensiun dari kependetaan, ketika masih bekerja di Kantor Pusat HKBP lima belas tahun lamanya, setiap tahun saya harus melintasi trans Sumatera, Tarutung-Jakarta pergi pulang. Pada tahun-tahun permulaan, setahun sekali; tetapi tahun-tahun berikutnya meningkat menjadi tiga empat kali. Sesuai dengan kondisi setiap jalan, kadang-kadang saya memilih lintas timur dengan melewati kota Palembang ini tentunya, kadang-kadang lintas tengah, demikian juga lintas barat. Begitulah, sekali waktu, ketika kondisi lintas timur dan lintas tengah sedang kurang baik, sayapun memilih lintas barat. Ketika itu saya sangat terkesan melihat sebuah rest area atau tempat peristirahatan yang sangat bagus. Didirikan di tepi jalan, di ketinggian yang sangat nyaman dan sejuk, pemandangannya indah di mana para pelintas boleh beristirahat dari perjalanan panjang yang melelahkan. Melihat itu sayapun berpikir kalau istirahat itu sangat penting. Karena pentingnya, orangpun berani menanamkan modal besar untuk membangunnya, dan para pelintas juga tidak keberatan menghabiskan sebagian dari waktu dan uangnya untuk menikmatinya.

Saudara-saudara!

Memang, istirahat itu penting. Bekerja terus mene-rus sangat berbahaya bagi kehidupan. Oleh sebab itu, sejak mulanya, Allah sudah menetapkan suatu irama tetap kehidupan, yakni bekerja enam hari dan istirahat satu hari. Hal itu Ia dasarkan pada caraNya sendiri ketika menciptakan langit dan bumi dan segala isinya. Dalam ceritera pen-ciptaan kita baca, “Jadilah petang, jadilah pagi, itulah hari keenam. Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuatNya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuatNya itu. Lalu Ia memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya.”

Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir dan diterima menjadi umat Allah, hal itu ditegaskan kembali dalam Dekaloog atau Kesepuluh Hukum, yakni pada Hukum Keempat, yang berbunyi, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” Dengan demikian terjadilah satu siklus tujuh hari atau mingguan yang terdiri dari enam hari kerja dan satu hari istirahat atau Sabat di dalam kehidupan sosial dan keagamaan bangsa Israel. Bahkan pada perkembangan selanjutnya siklus itu diperluas lagi menjadi siklus tujuh tahunan dan limapuluh tahunan. Mengenai kedua hal yang disebut belakangan itu, dalam pasal bacaan kita Minggu ini dikatakan, melalui Musa Allah mengaturkan kepada umat Israel agar melakukan: Pertama, Tahun Sabat. Satu tahun sabat terdiri dari tujuh tahun, yakni enam tahun kerja dan satu tahun istirahat. Maksudnya, setelah sampai di tanah Kanaan, selama enam tahun berturut-turut mereka harus mengerjakan tanahnya masing-masing, menaburinya dengan benih gandum maupun jelai atau menanaminya dengan anggur ataupun zaitun, memeliharanya dengan baik serta memungut hasilnya pada waktunya. Tetapi pada tahun ketujuh, tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi Tuhan. Maksudnya, pada tahun ketujuh itu tanah tidak boleh dikerjakan melainkan harus dibiarkan kosong; ladang-ladang gandum atau jelai tidak boleh ditaburi benih baru, dan kebun-kebun anggur ataupun zaitun tidak boleh dirantingi atau dibersihkan. Kedua, Tahun Yobel. Satu Tahun Yobel terdiri dari tujuh tahun sabat. Jadi, tujuh kali tujuh tahun sama dengan empatpuluh sembilan tahun. Dirayakan setahun sesudah itu, jelasnya pada tahun yang kelimapuluh. Pada tahun itu juga, sama seperti pada tahun sabat, semua tanah tidak boleh dikerjakan dan ditanami, pohon-pohon anggur dan zaitun pun tidak boleh dirantingi, melainkan harus dibiarkan terlantar. Lalu, apakah arti semua itu?

Saudara-saudara!

Itulah salah satu cara Allah untuk memelihara dan menjaga kelangsungan hidup manusia. Mengenai itu, berdasarkan pasal bacaan hari ini, kita ingin membicarakan tiga hal.

1. Pemeliharaan Allah dalam konteks hubungan manusia dengan tanah. Manusia berasal dari tanah, diam di tanah dan hidup dari tanah. Untuk tenggang waktu yang tertentu, manusia memang boleh hidup bukan di tanah. Para awak kapal misalnya, baik kapal permukaan air maupun kapal bawah air atau kapal selam, berbulan-bulan lamanya boleh berada di atas atau di bawah permukaan air. Para awak laboratorium angkasa, berbulan-bulan dapat diam di ruang angkasa. Tetapi suatu saat, mereka pasti kembali dan berdiam lagi di atas tanah. Dan selama di atas dan bawah permukaan air maupun di angkasa luar, mereka semua tetap hidup dari tanah, sebab roti yang mereka makan atau anggur yang minum semuanya berasal dari tanah. Ya, manusia tidak dapat dilepaskan dari hubungannya dengan tanah. Aturan tentang Tahun Sabat dan Tahun Yobel itu menegaskan bahwa Allah menjaga agar hubungan itu tetap dapat berlangsung dengan baik; menjaga agar tanah tetap dapat didiami dan mampu menghasilkan makanan bagi makhluk hidup, terutama sekali manusia. Untuk itu, tanah itu harus diberi kesempatan beristirahat, tidak boleh dieksploitasi atau dikuras terus menerus sehingga menjadi tandus.

2. Pemeliharaan Allah dalam konteks hubungan manusia dengan makhluk lainnya. Manusia bukanlah makhluk yang tersendiri, yang dapat hidup dari dirinya sendiri, melainkan di dalam hubungan dan keterkaitan dengan makhluk lainnya, dengan tumbuhan dan hewan. Dalam ilmu lingkungan atau ekologi, diajarkan pengetahuan tentang rantai makanan, yaitu pengalihan enerji dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan. Bumi menumbuhkan tumbuhan, manusia memakannya sehingga enerji yang ada pada tumbuhan itu dialihkan kepada manusia. Pengalihan itu bisa juga terjadi secara tidak langsung, yakni melalui hewan. Hewan herbivora memakan tumbuhan dan menghasilkan susu, telur dan daging yang pada gilirannya menjadi makanan bagi manusia. Hanya dengan rantai makanan sedemikian manusia boleh hidup. Aturan tentang Tahun Sabat dan Tahun Yobel menegaskan bahwa Allah menjaga agar rantai makanan itu boleh berlangsung terus. Untuk itu pohon anggur dan zaitun harus diberi istirahat, tidak boleh ‘dipaksa’ terus menerus berbuah yang pada gilirannya akan mempercepatnya mati. Nasib hewan juga diperhatikan, hewan piaraan maupun hewan hutan. Kita dengarkan tadi, di tanah yang ditelantarkan itu ada jelai atau gandum yang tumbuh sendiri. Dan di pohon anggur dan zaitun yang tidak dirantingi itu, masih terdapat sedikit buah. Semua itu bebas dimakan oleh hewan piaraan maupun hewan liar tanpa ada yang melarang. Demikianlah Allah memperhatikan kesejahteraan dan kelangsungan hidup tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup manusia.

3. Pemeliharaan Allah dalam konteks hubungan manusia dengan sesamanya. Sekali lagi, manusia tidak dapat hidup dari dirinya sendiri, melainkan di dalam hubungan dan keterkaitan dengan mahluk lain, demikian juga dengan sesamanya. Bahkan sesungguhnya, manusia menjadi manusia apabila hidup dengan sesamanya. Aturan tentang Tahun Sabat dan Tahun Yobel adalah juga cara Allah untuk memelihara agar hubungan dengan sesama manusia itu boleh berlangsung dengan baik. Untuk itu, nasib orang miskin dan yang kurang beruntung turut diperhatikan. Mengenai itu, kita baca tadi, hasil gandum dan jelai yang tumbuh sendiri, demikian juga buah pohon anggur dan pohon zaitun yang tidak dirantingi, di samping bebas dimakan oleh hewan-hewan, bebas juga diambil dan dimakan oleh siapapun juga, oleh para budak laki-laki dan perempuan, oleh orang-orang upahan maupun orang-orang asing sehingga beban kehidupan mereka diringankan. Bahkan pada Tahun Yobel, orang-orang yang menghambakan diri karena terlilit utang harus dibebaskan agar dapat kembali kepada kaumnya, dan tanah-tanah yang sempat terjual dan tidak mampu ditebus harus dikembalikan kepada pemiliknya semula atau kepada ahli warisnya. Dengan demikian hubungan antar manusia dalam konteks sosial dan ekonomi dipulihkan kembali, sehingga kehidupan dapat berlangsung dengan baik dan serasi.

Saudara-saudara!

Itulah yang penting kita perhatikan pada tahun ini, ketika gereja kita merayakan tahun yobelnya yang ketiga pada Jubileum 150 Tahun HKBP. Perlu kita sadari, dasar Alkitabiah Jubileum adalah hari perhentian atau Sabat Tuhan yang diperluas menjadi Tahun Sabat dan Tahun Yobel. Sebab itu, Jubileum tidak cukup dirayakan dengan seremoni, dengan pesta atau sorak-sorai apalagi hura-hura, melainkan harus memperhatikan juga makna Jubileum terhadap alam sekitar, dunia tumbuhan, dunia hewan dan sesama manusia. Di distrik kami misalnya, Distrik Jakarta-3, beberapa bulan yang lalu diselenggarakan suatu program go green, yakni penanaman pohon di pinggir sebuah jalan toll. Saya kurang tahu, apakah program seperti itu ada terpikirkan buat Tobasa dan Tapanuli Utara yang lingkungan alamnya sudah sangat rusak seiring dengan kehadiran Perusahaan Inti Indorayon Utama yang sekarang ini sudah bersalin rupa menjadi Toba Pulp Lestari. Menurut hemat saya, dalam merayakan Jubileum 150 Tahun HKBP, itulah yang seharusnya kita tuntut dari Toba Pulp Lestari, mereka harus memperbaiki lingkungan yang mereka rusak, bukan memberi sumbangan duit 1 M kepada HKBP yang sesungguhnya tidak ada artinya dibanding dengan kekayaan alam dan masyarakrat yang sudah mereka kuras.

Saudara-saudara!

Jubileum menuntut kita semua agar memiliki keprihatinan dan komitmen terhadap lingkungan, terhadap keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan serta menjaga dan mengupayakan agar bumi tetap mampu menampung dan layak ditempati oleh makhluk hidup. Hal itu dapat kita lakukan antara lain dengan menghindari penggunaan pupuk kimia dan pengeksploitasian sumber-sumber daya alam secara berlebihan.

Akhirnya, Jubileum juga menuntut kita agar memperbaiki hubungan persekutuan dengan sesama manusia di dalam segala konteksnya. Beberapa tahun yang lalu, dalam suatu perkunjungan ke daerah ini, Ompui Ephorus mengadakan audiensi ke Gubernur Sumatera Selatan. Selaku staf, saya mendampingi beliau dalam audiensi tersebut. Ketika itu, saya sangat terkejut dan malu karena pada kesempatan itu, Pak Gubernur berceritera kepada kami tentang seorang Batak yang membawa senjata tajam dan melukai seorang pejabat. Mengapa Gubernur tidak bicara tentang kebaikan orang Batak? Mengapa justru ‘kejelekannya’? Entahlah. Namun, apapun motivasinya, yang pasti banyak hal yang masih harus kita perbaiki di dalam bersikap terhadap sesama. Bukan karena kebutuhan kita semata, melainkan karena Tuhan memerintahkannya. Kiranya, Dia menolong dan menguatkan kita. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar