6.29.2013

5 Trinitatis

 MENGIKUT KRISTUS
Mat.8:18-22

          Saudara-saudara, sidang jemaat Kristus yang dikasihi Allah.
‘Mengikut Kristus’ adalah satu konsep yang penting di dalam Alkitab maupun kehidupan orang Kristen. Mengingat pentingnya, hal itu sering digunakan sebagai sebutan atau identitas orang percaya; mereka sering dinamai pengikut Kristus. Sebagai konsep yang penting, hal itu tidak dapat dijelaskan atau digambarkan dalam satu dua kalimat saja. Tuhan kita Jesus Kristus sendiri, dalam menjelaskan dan menggambarkan konsep itu, Ia sampai menggunakan beberapa kalimat dan berbagai gambaran sebagaimana boleh kita baca di dalam Perjanjian Baru. Sama seperti itu, dalam rangka khotbah ini, tidaklah mungkin bagi kita untuk membicarakan segala sesuatu yang berkenaan dengan mengikut Kristus itu, akan tetapi kita akan membatasi diri hanya pada kesaksian pasal bacaan hari ini saja.
Saudara-saudara!
Sebelum pasal bacaan kita hari ini, Matius menceriterakan, Yesus menyembuhkan mertua perempuan Petrus. Mendengar itu, penduduk Kapernaum berdatangan kepadaNya membawa orang-orang yang kerasukan setan dan yang menderita sakit, dan Yesus menyembuhkan mereka. Akibatnya, orang banyak tertarik kepadaNya. Mereka merasa ada hubungan emosional di antara mereka dengan  Yesus, sehingga mereka mengelilingi Dia. Hal itu terjadi bukan atas permintaan Yesus. Bukan Dia yang mengajak atau menahan mereka agar tidak beranjak dari padaNya, melainkan mereka sednirilah yang merasa sudah menjadi pengikut Yesus serta mengidentifikasikan diri sebagai muridNya. Dalam pemandangan Yesus, hal itu bukan perkembangan baik, akan tetapi justru sebaliknya, Ia melihat bahwa di dalam peristiwa itu ada sesuatu yang sulit dan berbahaya, sehingga sebagai dikatakan dalam ayat pertama pasal bacaan kita hari ini, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Ia tinggalkan mereka dan pergi ke daerah lain, di seberang danau Galilea.
Saudara-saudara!
Dari itu jelas, menjadi pengikut atau murid Yesus tidak pernah terjadi dari niat hati ataupun kemauan manusia, melainkan oleh pemanggilan dan pemilihan Kristus sendiri. Petrus menjadi pengikut Kristus karena dipanggil, Yohanes juga menjadi murid Kristus karena dipanggil, demikian juga murid-murid lainnya. Oleh Yesus sendiri, hal itu ditegaskan di dalam Yoh.15:16, kataNya, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Jadi, bukan karena kita memilih dan mengikut Yesus, lalu kita dipanggil dan dipilih menjadi muridNya, bukan; akan tetapi sebaliknya, karena Tuhanlah yang sudah memanggil dan memilih serta menjadikan kita muridNya, maka kita boleh memilih dan mengikut Dia selaku Guru dan Tuhan kita. Oleh gereja kita HKBP, hal itu dengan sangat baik diaminkan dalam Buku Ende No.9:2 yang berbunyi, “Dipillit Ho hian tondingku, i pe hutodo Ho Tuhanhu.
Hal itu penting kita ingat agar tidak menganggap remeh, melainkan menghargai betul keberadaan kita sebagai murid atau pengikut Kristus. Tuhanlah, oleh kasih dan karuniaNya yang besar dan bebas yang sudah memanggil dan memilih serta menjadikan kita muridNya. Bukankah itu mengagumkan dan membanggakan serta pantas kita syukuri dengan bersungguh-sungguh menjadi murid dan mengikutiNya?
          Saudara-saudara!
Selanjutnya, dalam pasal bacaan kita hari ini dibicarakan seorang ahli Taurat yang ingin mengikut Yesus. Sama seperti orang Kapernaum, dia juga bukan orang yang dipanggil, melainkan dia sendirilah yang ingin mengikut Yesus. Dapat diduga, ia sudah pernah melihat Yesus, pernah mendengar khotbah dan pengajaranNya, serta melihat perbuatan-perbuatanNya yang ajaib. Dia pun tertarik serta  mengidentifikasikan dirinya sebagai murid dan mengakui Yesus sebagai gurunya; lalu dengan motifasi yang salah, ia menyatakan bahwa ia mau mengkuti Yesus ke manapun Ia pergi. Jawab Yesus kepadanya, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” Dengan perkataan itu Yesus mau mengingatkan ahli Taurat itu bahwa, menjadi murid dan mengikut Dia bukanlah perkara gampang, melainkan sulit bahkan sangat sulit karena banyak sekali tantangan maupun risikonya. Seorang murid tidak lebih besar dari gurunya. Jika Jesus Guru itu oleh dunia tidak diberi tempat untuk meletakkan kepalaNya, sama halnya dengan murid-muridNya, mereka juga akan dibenci, akan dihina, ditolak, dikejar-kejar dan diperlakukan sebagai orang asing.
Saudara-saudara!
Hal itu juga penting kita ingat, agar tidak menganggap menjadi murid atau pengikut Kristus sebagai perkara gampang, melainkan sebagai kenyataan sulit, yang penuh dengan tantangan dan risiko. Kita harus bersyukur dan memuji Tuhan karena kita masih diperkenankan hidup tenang  di Indonesia ini sekarang ini di dalam menjalani kehidupan kita sebagai orang Kristen. Tetapi tidak mungkin bagi kita untuk menutup mata terhadap penderitaan teman-teman kita seiman di berbagai tempat yang tidak dapat lagi beribadah dengan tenang, tidak diperbolehkan membangun gedung gereja, yang sudah sempat didirikan juga dilarang digunakan atau dirubuhkan. Kita harus sungguh-sungguh berdoa bagi mereka agar mereka tidak terkejut dan tawar hati, karena jauh sebelumnya Tuhan sudah menubuatkannya dan telah berjanji bahwa Dia tidak akan membiarkan murid-muridNya berjuang sendiri.
Di lain sisi, melalui firman ini kita diingatkan juga agar tidak mau disesatkan oleh ajaran yang menyatakan bahwa orangorang percaya harus hidup tenang. Belakangan ini, di kalangan orang Kristen berkembang suatu ajaran yang disebut teologi sukses yang merupakan sinkritisme antara globalisasi ekonomi dengan kehausan beragama. Penganjur dan penganut ajaran tersebut menyatakan mi-salnya, “Allah kita adalah Allah yang Mahabesar, kaya, penuh berkat dan manusia yang beriman pasti akan mengalami kehidupan yang penuh berkat pula, kaya, sukses dan berkelimpahan materi.” Berdasarkan ajaran itu pula dikatakan bahwa, orang Kristen yang miskin, sintua yang tidak berkelimpahan materi, atau pendeta yang tidak kaya adalah orang-orang yang kurang percaya dan tidak diberkati Allah. Bagi orang-orang yang matanya telah digelapkan oleh pikiran ataupun ajaran sukses sedemikian hendaklah mengingat perkataan Yesus, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” Kita boleh berharap dan berdoa agar Tuhan mengaruniai kita dengan kelimpahan materi, akan tetapi barangsiapa lebih mendambakan kekayaan jasmani ketika memutuskan memilih dan mengikuti Yesus, pada masa sama ia sudah kehilangan tempat di tengah-tengah murid dan pengikut Kristus.
          Saudara-saudara!
Dalam bagian terakhir pasal bacaan ini dibicarakan tentang seorang murid yang ingin menunda untuk sementara panggilannya untuk mengikuti Yesus agar dapat memenuhi tanggungjawabnya sebagai anak terhadap ayahnya, katanya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Tetapi Yesus tidak meloloskannya, melainkan kataNya, “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” Penundaan sementara mengikut Kristus karena alasan apapun cenderung berakhir pada penundaan selamanya, sebab kesempatan untuk menjadi murid tidak terbuka senantiasa.
Ini juga penting kita ingat agar memprioritaskan ketaatan kita kepada Yesus dalam memenuhi panggilan dan pemilihanNya pada kita untuk menjadi muridNya. Relasi atau hubungan kita kepadaNya jauh lebih penting dan lebih berharga dari pada relasi kepada yang lain-lain, seperti kepada orangtua, sanak saudara, persekutuan marga dan lain sebagainya. Mengenai ini, saya kira, kita sering kedapatan sebagai orang-orang bersalah. Misalnya, ada yang berpikir dan bersikap: Nantillah, sesudah tua saya rajin ke gereja; sekarang, selagi muda lebih baik menggunakan segenap tenaga dan waktu untuk mencari hal-hal duniawi, seperti ilmu, kekayaan, kedudukan, dan lain-lain sebagainya. Kita tidak sanggup senantiasa untuk menyikapi ajaran Tuhan kita Yesus Kristus dalam Mat.6:33 yang menyatakan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu,” melainkan cenderung lebih menyukai yang sebaliknya, mencari yang lain lebih dahulu baru sesudah itu mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Apabila kita diperhadapkan ke dua pilihan, tuntutan adat di satu fihak misalnya, tuntutan firman Tuhan di fihak yang lain, upacara adat di satu fihak, upacara gereja di fihak yang lain, tidak perlu membela diri, banyak di antara kita yang lebih suka memenangkan adat. Yesus Kristus berkata, “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” Barangsiapa mengutamakan relasinya dengan yang lain ketimbang hubungan persekutuannya dengan Tuhan Yesus Kristus, sesungguhnya ia seorang yang sudah mati kendati masih hidup. Jika kita tidak ingin mati selagi hidup, mari saudara-saudaraku, kita mengikuti Tuhan Yesus Kristus sekarang juga; jangan sekalikali menunda hingga hari esok, karena kita tidak pernah boleh memastikan bahwa hari esok itu masih ada untuk kita. Amin.

Khotbah Kebaktian Malam 30.06.13 di HKBP Menteng/mvs
















1 komentar:

  1. Horas amang. Pdt. Bolivar Naibaho do au amang namarhobas di HKBP Kuala Lumpur. Amang, adong do tingki ni amang di tgl 9 Agustus on? Amang ma didok rohanami nagabe pembicara di pembinaan parhalado HKBP Kuala Lumpur, laos amang ma muse marjamita tu Minggu nai..Arop situtu do rohanami da amang, laos lehon amang majo email nang no telepon da amang. Mauliate

    BalasHapus