10.01.2012

Khotbah Minggu 18 Trinitatis, 07.10.2012

KHOTBAH MINGGU 18 TRINITATIS, 07.10.2012

Ibr.2:5-12



“Apakah manusia itu?” Pertanyaan itu sudah lama diajukan dan dipergumulkan orang. Sehubungan dengan itu, Ernst Bloch, seorang filsuf berkebangsaan Jerman berkata, “Manusia belum mengetahui apakah dia itu, namun melalui alienasi dari dirinya sendiri, ia dapat mengetahui apa yang pasti bukan merupakan dirinya, dan karenanya ia tidak mau, atau sekurang-kurangnya seharusnya ia tidak mau tetap tinggal dalam kepalsuan.” Mengenai itu, Dr.M Sasteraprateja, seorang filsuf bangsa Indonesia berkata, “Kata-kata Ernst Bloch ini mengingatkan kita bahwa kita tidak memiliki defenisi praada tentang kemanusiaan kita. Kita tidak mempunya gambaran paripurna tentang manusia.”

Tidak berlebihan apabila saya katakan, pendapat kedua pakar filsafat itu rada asing bagi kita. Mengapa? Sebab berdasarkan firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, pengetahuan kita tentang manusia cukup jelas. Bagaimana manusia itu ada dan untuk apa ia ada, apa makna keberadaannya dan menjadi apa ia pada akhirnya, jawabannya dapat kita jumpai di seantero Alkitab, antara lain di dalam pasal bacaan kita minggu ini.

Menurut Alkitab, manusia itu diciptakan dari tanah. Oleh karena itu, di dalam Alkitab berbahasa Ibrani, manusia itu dinamai ‘adam’ yang berasal dari kata ‘haadamah’, artinya tanah atau debu. Kadang-kadang manusia itu dinamai juga ‘enosy’ artinya insan, suatu istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan kelemahan dan kehinaan manusia itu. Namun demikian, ajaib sekali, kepada manusia itu, Tuhan mengaruniakan kuasa atas segala sesuatu. Dalam Kej.1:28 Tuhan Sang Pencipta itu berfirman, “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, dan segala binatang yang merayap di bumi.”

Itulah manusia, dia adalah ciptaan Tuhan. Manusia bukanlah makhluk yang terjadi secara kebetulan, bukan hasil dari suatu proses alamiah atau reaksi kimiawi, bukan perkembangan akhir dari suatu proses evolusi, melainkan ciptaan Tuhan. Manusia itu ada atas rencana Tuhan yang jelas. Dengan kata lain, sebelum ia diciptakan, rancangan atau defenisi praadanya sudah ada, sebagaimana diungkapkan di dalam Kej.1:26-27. Rancangan itu Tuhan wujudkan melalui suatu karya penciptaanNya yang agung. Sebagai ciptaan, di satu sisi manusia itu kecil dan lemah; hanyalah adam, tanah atau debu; hanya enosy, insan kecil dan hina. Namun di lain sisi, manusia itu adalah makhluk yang mulia, yang diberi kekuasaan atas segala sesuatu. Kenyataan itu sangat menakjupkan dan mengagumkan. Tuhan Allah, Pencipta segala sesuatu berkenan mengaruniakan kemuliaan dan hormat yang begitu besar kepada manusia yang sesungguhnya hanyalah segumpal tanah atau setitik debu? Dalam kekaguman dan ketakjubannya, Pemazmur 8 sampai mengartikan bahwa manusia itu diciptakan sedikit lebih rendah dari pada Tuhan sendiri. “Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu, segala-galanya telah Kau letakkan di bawah kakinya.” Oleh Penulis surat Ibra-ni, kesaksian Pemazmur itulah yang disadur dalam pasal bacaan kita Minggu ini sebagai yang sudah kita dengarkan tadi, dalam ay.6-8 dikatakan, “Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia sehingga Eng-kau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kakinya.”

Bahkan yang lebih menakjupkan dan mengagumkan lagi, dalam ay.5 dikatakan, dunia yang akan datang juga Tuhan taklukkan kepada panusia. Dalam Alkitab, kita tidak pernah membaca adanya janji kekal Allah terhadap makhluk-makhluk lain, kepada ikan-ikan di laut, burung-burung di udara ataupun binatang-binatang yang merayap di atas bumi. Semuanya itu akan lenyap bersama-sama de-ngan bumi yang akan lenyap. Lain halnya dengan manusia, mereka dijanjikan akan mewarisi dunia yang akan datang, yaitu kehidupan yang kekal. Di situ orang-orang percaya bukan hanya sekedar pewaris, melainkan adalah sebagai penguasa yang akan memerintah bersama-sama dengan Kristus hingga kekal, selama-lamanya.

Akan tetapi ketika dosa masuk, manusia menjadi lain dari yang seharusnya; menjadi seperti produk yang gagal fungsi (malfunction). Dari makhluk yang diciptakan sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat bahkan hampir sama dengan Allah, manusia menjadi insan yang kerdil. Ganti penguasa atas segala sesuatu yang terpanggil bukan saja untuk memenuhi dan menaklukkan bumi serta menguasai segala sesuatu melainkan juga untuk memelihara dan melestarikan segala ciptaan, manusia menjadi penakluk yang menyeramkan, yang demi pemenuhan hasrat duniawi dan kerakusannya tega menguras sumber-sumber daya alam tanpa peduli akan datangnya kerusakan dan kehancuran. Manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang mulia, di dalam dan oleh dosa menjadi makhluk yang frustrasi karena keadaan, yang takluk akan godaan-godaan dan terbelenggu oleh kelemahannya sendiri. Manusia yang seharusnya bebas menjadi terikat, yang semestinya raja menjadi budak belian, dan yang seharusnya menjadi pengayom antar sesama menjadi homo homini lupus atau serigala terhadap sesamanya. Manusia yang ditentukan menjadi pewaris dan penguasa dunia yang akan datang, malah menjadi makluk yang tidak punya harapann dan masa depan. Sungguh, di dalam dan oleh dosa, manusia bukan lagi menjadi seperti yang seharusnya, tidak lagi menjadi seperti yang dimaksudkan. Akankah keadaan itu berlangsung terus, dan rencana asli Tuhan tentang manusia gagal total?

Tidak, sebab Kristus sudah datang ke dalam dunia untuk mengembalikan manusia ke kedudukan atau maksud penciptaannya semula, mengembalikan ke martabatnya sebagai makhluk yang diciptakan hampir sama seperti Allah, yang dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, yang dikaruniai kuasa atas segala sesuatu, dan yang akan mew-risi serta memerintah dunia yang akan datang. Ya, Kristus sudah datang unuk memulihkan atau memanusiakan manusia. Untuk itu Ia harus menjadi sama dengan manusia. Dalam ay.9 pasal bacaan hari ini dikatakan, “Dia, ... untuk waktu yang singkat dibuat lebih rendah dari pada malaikat-malaikat,” Oleh Paulus, hal itu lebih jelas digambarkan dalam Flp.2:7-11, katanya, “(Ia) telah mengosongkan diriNya sendiri dan dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya di dalam nama Yesus bertekuk lutut segala nama yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa.” Ya, di dalam keadaanNya yang menjadi sama dengan manusia itu, Kristus menderita dan mati. Bukan untuk selamanya, karena tiga hari kemudian Ia bangkit dan masuk ke kemuliaan. Semuanya itu adalah untuk manusia: Ia menderita dan mati untuk manusia, dan bangkit juga untuk manusia supaya manusia menjadi seperti yang semula dimaksudkan. Ia menjadi ‘archegos’ atau pemimpin kepada keselamatan, yang merintis jalan dan membawa manusia kepada Allah.

Dengan perantaraan Roh Kudus yang bekerja melalui Injil, itulah yang Tuhan sudah lakukan bagi kita. Ia manusiakan kita kembali, Ia pulihkan ke kemanusiaan yang sesuai dengan maksud aslinya. Hal itulah yang harus kita ingat dan kita syukuri dalam rangka Hari Ulang Tahun 151 HKBP yang jatuhnya pada hari ini. Dari sejarah kita tahu, pada 7 Oktober 1861, empat orang penginjil mengadakan rapat di Sipirok untuk merumuskan pembagian pekerjaan penginjilan di Tanah Batak. Itulah permulaan pekerjaan penginjilan yang teratur rapi di Tanah Batak yang oleh perkenan Tuhan boleh berjalan dengan cepat dan berhasil baik. Menurut hemat kita, peristiwa itu sangat penting, dan itulah sebabnya, gereja kita menetapkannya sebagai hari lahir HKBP.

Hingga saat itu, sebagai bagian dari warga masyarakat manusia yang telah takluk di bawah kuasa dosa, bangsa Batak juga sudah kehilangan harkat kemanusiaannya sebagai dimaksudkan oleh Tuhan, dan itu sangat nyata mengemuka di dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya yang lebih banyak diwarnai kecurigaan dan kebencian ketimbang kasih. Perang antar kampung sering terjadi. Semuanya itu memaksa orang untuk memperlengkapi diri dengan alat-alat pertahanan dan penyerangan yang bersifat fisik ataupun magis seperti gadam, rasun, alaula, pangulubalang dan lain sebagainya. Nenek moyang kita hidup dalam kegelapan, kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan dan ketertutupan yang relatif ketat. Tetapi dengan datangnya Injil dan gereja Tuhan didasarkan di Tanah Batak, bangsa kita dimanusiakan kembali. Bukan saja secara rohani, melainkan juga secara jasmani, sebab para pekabar Injil juga membawa dan memperkenalkan unsur-unsur kebudayaan Barat yang maju kepada bangsa kita, seperti sistem persekolahan dan pelayanan kesehatan, sehingga lambat laun bangsa kita boleh keluar dari kegelapan, dari ketertutupan dan ketertinggalan serta melangkah ke kehidupan yang lebih manusiawi, yang lebih beradab dan bermartabat: Kehidupan dalam Kristus.

Semuanya itu tidak cukup kita syukuri, melainkan harus kita hayati dan kita amalkan. Sebagai orang-orang yang sudah dimanusiakan, jangan lagi berkubang di dalam kepalsuan, melainkan hidup serta bersikap dan berperilakulah sebagai manusia, dalam kekudusan, kebenaran dan pengasihan. Di samping itu, kita harus turut di dalam upaya-upaya pemanusiaan manusia. Perlu kita sadari, tugas pemanusiaan oleh Injil melalui gereja atau orang-orang percaya belum lagi selesai. Bahkan selama matahari bersinar, tugas itu harus terus berlangsung. Dosa terus bekerja, sehingga selalu ada orang yang kehilangan martabat kemanusiaannya sebagai yang Tuhan maksudkan. Hal itu boleh terjadi oleh berbagai sebab, seperti kebodohan, penyakit atau kemiskinan. Sebagai gereja atau orang-orang beriman kita terus terpanggil untuk memanusiakan orang-orang seperti itu. Sehubungan dengan itu, Sinode Godang HKBP yang diselenggarakan di Seminarium Sipoholon pada tanggal 10-16 September 2012 yang lalu, dalam rangka memetakan kembali missi HKBP untuk beberapa tahun ke depan telah merumuskan satu program yang berbunyi, “Memulihkan harkat dan martabat orang kecil dan tersisih melalui pendidikan, pelayanan kesehatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat serta membangun dan mengembangkan kerjasama antar gereja dan dialog antar agama.” Kiranya kita juga turut tergerak untuk ambil bagian dalam pelaksanaan missi tersebut. Amin.







Read More..

9.14.2012

Jamita Minggu 15 Trinitatis 2012

JAMITA MINGGU 15 TRINITATIS, 16.09.2012

Mat.16:13-20



“Ise do Jesus Kristus i?” I do sada sungkunsungkun naung leleng diparungkilhon halak. Jalo dung pemunculanNa di tonga ni natorop, nunga tubu sungkunsungkun i. Boasa? Ai di sada sisi, diboto jala ditanda halak do Ibana songon jolma na somal. Tubu sian sada parompuan, i ma si Maria, secara hukum anak ni sada baoa, i ma si Josep. Tarrajum do Ibana tu sada huta, i ma Nasaret, tu sada luat, i ma Galilea; tarrajum muse tu sada marga, i ma Juda, tu sada ompu, i ma Daud. Sarupa tu sandok anak Israel, terlibat jala parsidohot do Ibana di proses sosialisasi dohot enkulturasi ni bangsoNa, tu proses menjadi warga ni masyarakatNa na sesuai tu budayaNa. Alai di sisi na asing, ndang tarbahen agia ise manutup mata taringot tu halobianNa sian jolma na somal. Di umurNa na pasampuluduahon dope, di na hadir Ibana di bagas joro di sada Pesta Paskah ni Jahudi, nunga mampu Ibana mardiskusi aktif di tongatonga ni angka malim dohot rabbi Jahudi, jala nunga digoar Ibana Debata Jahowa i AmaNa. “Ndang diboto hamu na patut Ahu di bagasan bagas ni Damang?” ninna. Lam tu tangkasna do halobianNa i dung na muncul jala mangula Ibana di tonga ni natorop. So pola mamolus parsiajaran manang pelatihan na khusus, tampil do Ibana gabe pangajari na manalpui angka rabbi di Israel, gabe parjamita, gabe pangubati, sisesa dosa, sipabali sibolis dohot sibahen halongangan. Sudena i mamaksa angka na marnida Ibana sungkunsungkun mandok, “Ise do Halak on ...?”

Songon jolma na marutohutuk jala na mardayabudi, ndang sae jolma i holan na sungkunsungkun, alai diuji do mangalehon alusna. Di jamita on, tabege do nangkin opat alus na nilehon ni halak angka na satingki dohot Jesus, i ma na parjolo: Si Johanes Pandidi, na paduahon: Si Elia, na patoluhon: Si Jeremia, jala na paopathon: Sahalak sian angka panurirang. Songon anak ni zamanna, diboto angka sisean i do i, jala ndang so mungkin na dohot nasida dipengaruhi jala manjalo pingkiran i. Ala ni i, di na disungkun Tuhanta nasida di jamita on, didok, “Ise do Anak ni Jolma i didok halak?” mansai mura do nasida mangalusi i mandok, “Na deba mandok: Si Johannes Pandidi, anggo na deba: Si Elia, na asing muse: Si Jeremia, manang sahalak sian angka panurirang i.”

Sahat tu tingki on mangolu do sungkunsungkun i jala torus do diuji jolma mereka-reka alusna. Di angka dongan na somal mambuka internet, ra, hea do diparrohahon, so pola sadia leleng dope, adong do sada situs berita na torus menawarkan beasiswa tu manang na ise pe na rade laho mangguruhon, meneliti dohot mangalusi sungkunsungkun na mandok: “Betulkah Jesus itu Tuhan?” Di na huuji manjaha proposalna, torang, na marhaborhatan do i sian pingkiran na so porsea di hadebataon ni Jesus, jala hombar tusi, kesimpulan na diharaphon pe naeng ma na mambuktihon i. Songon i do sude alus na piningkiran ni jolma, marhaborhatan do sian hasohaporseaonna. Pada umumna, disimpulhon halak do na jolma sambing do Jesus i. Di bagasan hajongjonganNa na songon jolma i, adong ma na mangarajumi Ibana songon sada panurirang manang nabi na sakalas dohot si Musa manang si Jesaya, na asing mangarajumi songon sipungka ugamo na sarupa dohot Sidarta Gautama manang Konghuchu, na asing muse mandok guru kesusilaan manang moral, na deba mandok reformator sosial, jala na deba nari mandok sahalak superstar. Angka alus haliluon do i na so ojak di hasintongan. Antong, ise do Jesus i tutu?

Mangalusi sungkunsungkun ni Jesus taringot tusi, di jamita on didok si Simon Petrus do, “Kristus (Mesias), Raja na pinarbagabaga i do Ho, Anak ni Debata na mangolu.” Mansai manarik, taringot tu alusna i diparhatua Jesus do si Petrus, didok, “Martua do ho, Simon, anak ni si Jona, ai ndada daging dohot mudar papatarhon i tu ho. Damang na di banua ginjang i do.” Di Mat.11:27 didok Tuhanta Jesus do, “Ndang adong na tumanda Anak i, dungkon ni Ama i.” Na nidokNa disi, holan Debata do na umboto manang na ise jala boha do Jesus Kristus i sasintongna. Ala holan Ibana umbotosa, laos holan Ibana do na bolas patandahon AnakNa i tu jolma. Hombar tusi, di Joh.6:44 didok Jesus do, “Ndang adong na tarbahen ro tu Ahu, ia na so tinogu ni Ama i na marsuru Ahu.” Laos i ma na niondolhon ni Tuhanta tu si Petrus dison. Pingkiran dohot panghirimon ni halak Jahudi taringot tu hamesiason nunga manimbil sian na sasintongna, ai dibayanghon nasida do Kristus i songon mesias politik, songon raja portibi na ro laho manggohi cita-cita nasional Jahudi, na manaluhon harajaon Rom jala pajongjong harajaon Jahudi Messianis na meliputi sandok portibi on. Pasurungonna ma disi halak Jahudi songon warga utama, jala sandok bangso na asing gabe pangoloi di nasida. Mansai dao do i sian tondi ni hamesiason na sasintongna, jala pangantusion i ma na pinaulak ni Debata marhite si Petrus di jamita on. Gabe tokoh na parjolo sadar ibana di lapatan ni hadirion dohot hamesiason ni Jesus i.

Laos i ma na ringkot auhononta sian jamita on. Debata marhite Tondi Porbadia do na patandahon tu hita manang na ise jala boha do Jesus Kristus i. Apala i do na tahatindanghon di lapatan ni Haporseaon Ponggol Patoluhon i na mandok, “Na diparhatutu rohangku do na so tarbahen ahu porsea di Jesus Kristus Tuhanhu manang mandapothon Ibana ianggo tung sian roharohangku manang sian gogongku sandiri, alai na dijou Tondi Porbadia i do ahu marhitehite sian Barita na Uli.” Marhite Barita na Uli na hinatindanghon ni Tondi Porbadia i tatanda jala tahaporseai do paboa Kristus do Jesus i, Mesias na miniahan ni Debata, Raja na pinarbagabaga jala Anak ni Debata na mangolu i. Ndang na mura sahat tu panandaon sisongon i, alai na mangigil haoloon dohot haringgason do i manangihon dohot mangguruhon Barita na Uli i di bagasan haunduhon tu Tondi Porbadia i. Unang so taboto, godang do sitiop Bibel na so sahat tu panandaon na sintong di Jesus Kristus ala ni hasohaunduhonna tu Tondi Porbadia i. Dijahai jala dipatorang do Barita na Uli i hombar tu roha dohot hagiotna sambing, gabe adong ma rupani na mananda jala manghaporseai Jesus Kristus i songon sigohi kebutuhan ni hajolmaonna, jaminan ni kemakmuran dohot kesejahteraanna songon na binayanghon ni parteologi sukses; manang songon tokoh sejarah sambing na so boi antusan jala patorangon di ruar ni hukum-hukum ni sejarah songon na niondolhon ni penganut ni Yesus Sejarah. Barita na Uli na niajarhon ni Tondi Porbadia i manghatindanghon tu hita: Kristus do Jesus i, Mesias, Raja na pinarbagabaga, Anak ni Debata na mangolu, hasahatan ni nasa huaso na di banuaginjang dohot na di tano on, nuaeng dohot sogot.

Ala Raja do Jesus Kristus i, adong do na nirajaanNa. Mardomu tusi, ditaringoti do dison hajojongjong ni huria, didok, “Ahu pe, Hudok ma tu ho: Si Petrus (batu mamak) do ho, jala di atas batu mamak ondeng do paojahonHu huriangKu.” Di Padan na Imbaru, jotjot do digombarhon huria i songon bangunan. Ndang bangunan na mate, na mangolu do, ai angka jolma na mangolu do bahanna. “Angka batu na mangolu,” ninna di 1 Ptr.2:4. Si Petrus songon jolma na parjolo sadar jala manghatindanghon Jesus do Kristus, na harajuman do songon batu parjolo ni huria i. Mangihut tu ibana, tambahonon ni Tuhan i ma muse angka batu na asing, gabe jongjong sada huria hatopan na manghamham saluhut na porsea di sandok portibi on, tarmasuk hita angka na porsea di tingki on dohot di inganan on.

Taringot tu huria i, marbagabaga do Kristus i paboa na so tupa talu do i bahenon ni angka harbangan ni banuatoru. Na gabe sipapos roha ma i di hita songon ruas ni huria, paboa ndang di hita, alai di Jesus Kristus do jaminan ni masa depan ni huria i. Di abad 18, marbungaran do di Eropa sada faham na margoar Aufklarung manang Pencerahan. Sada sian these ni faham i mandok, abad 19 nama abad parpudi ni huria, dung i mintop ma. Ternyata, salpu do abad 19, ndang mintop huria i; manorusi tahe sahat tu abad 20 jala nuaeng nunga di abad 21 tong ndang mintop. Boasa? Ai ndang di jolma, alai di Kristus na songon i nantoari, songon i sadari on, laos songon i ro di saleleng ni lelengna, di Ibana do jaminan dohot masa depan ni huria i.

Laos i ma ra na ingkon dohonon taringot tu hurianta HKBP. Nunga marujung Sinode Godang nantoari, jala di Minggu sadari on ma pelantikan ni Ephorus, Sekjen, angka kepala departemen dohot praeses. Andorang so Sinode Godang, ribur do tarjaha manang tarbege angka tanggapan dohot komentar taringot tu HKBP. Godang na membayangkan, mamereng sian manang piga panatapan, isara pangulaon ni parhalado dohot parngoluon partondion ni huria, sai hira na laho mintop nama HKBP. Na deba menawarkan jalan keluar, didok rupani: “Muba manang mago.” Na nidokna, molo ndang muba – muba tu hamubaon songon na nirancangna sandiri – ingkon mago nama HKBP. Di pihak na asing, godang ma na manghirim tu Sinode Godang. Mampu nian Sinode i mamillit uluan na boi mamboan hurianta tu haimbaruon dohot tu hamajuon, mampu merumuskan rencana-rencana strategis demi masa depan ni HKBP. So mansoadahon usaho dohot peran ni manisia, unang hita sala, ndang di jolma manang di parsitutuonna, ndang di fungsionaris dohot di ruas jaminan dohot masa depan ni HKBP, di Kristus nampuna huria i do. Toho do, marhasil do Sinode mamillit fungsionaris na huhaporseai angka halak na tepat, alai ndang haru yakin ahu na marhasil nasida merumuskan rencana-rencana strategis demi masa depan ni HKBP. Hudok i, ai hombar tu informasi na dibuktikan dengan foto-foto, patulangaon do ruang sidang di tingki ceramah tema; hampir kosong do di na pasahat dohot membahas Barita Jujur Taon ni Ephorus, songon i di tingki na pasahat dohot membahas Laporan Departemen, lumobi di tingki na manaringoti Rencana Strategis HKBP. Hape nian, justru di angka i do boi idaon ni angka peserta fakta taringot tu HKBP; di dia do rupani hagogoonna, di dia hahuranganna, jala tu dia do i tujuhononhon. Rumusan adong, alai ndang na pinarungkilhon ni sude di bagasan parsitutuon dohot kesungguhan. Ala ni i ingkon gumodang do hita manatap dohot manghirim tu Tuhanta naung marbagabaga mandok, “Di atas batu mamak on do paojahonHu huriangKu, na so tupa talu i bahenon ni angka harbangan ni banuatoru.” Martangiang ma hita asa Ibana na mangula marhite fungsionaris angka naung tarpillit i dohot marhite rencana strategis na marhahurangan i.

Na parpudi, tu si Petrus songon batu na parjolo, dohot tu sandok huria i songon angka batu na mangolu didok Jesus do, “Hulehon pe tu ho anak hinsu ni Harajaon Banua Ginjang i: Nasa na niihotanmi di tano on, na tarihot ma i nang di banua ginjang; jala nasa na pinaluami di tano on, malua ma i nang di banua ginjang.” Na nidokNa disi, na jongjong jala marguna do huria i songon ulaula haluaon manang alat keselamatan di tangan ni Kristus Sipalua i. Dipasahat do Barita na Uli tu huria i, sibaritahonon jala sihatindanghononna, jala i do na songon anak hinsu ni Harajaon Banua Ginjang i. Di angka na manghaporseai jala na manjangkon Barita na Uli i ungkap do pintu ni harajaon i jala girgir bongotanna. Sabalikna do di angka na so manghaporseai jala na manulak, hinsu do torus pintu i.

Ringkot ma i ingotonta asa unang adong sian hita na tidak ambil peduli tu huria. Sai adong do Kristen na songon i, na so olo pasaorhon dirina manang na tu huria dia pe. Deba ala ni biar gabe parsidohot maon manaon reaksi ni portibi tu huria; na asing, ala ni pingkiranna na mangarajumi, haporseaon masalah pribadi do i, na so pola ingkon tarihot tu dongan, tu pandita manang tu upacara-upacara seremonial. Sala do i, ai sasintongna, ndang adong kekristenan pribadi, kekristenan kolektif do. Di huria dohot marhite huria i do sasahalak manjalo pandidion, manjalo pasupasu manang parpadanan na badia. Ndang hea dipodahon Bibel jala ndang dung masa na bolas sasahalak mandidihon dirina sandiri. Didok sada ama ni huria, “Ganup na mangokuhon Debata Amana, ingkon okuhononna do huria i inana.”

Di fihak na asing, songon huria na gabe hasahatan ni anak hinsu ni Harajaon Banua Ginjang, ingkon ringgas do hita manghatindanghon Barita na Uli i. Tu sangkap i, ringkot do jolo paimbaruonta pemahamanta taringot tu hakiki ni hadirionta songon huria. Somalna, dilapathon halak do huria i songon parpunguan ni angka na porsea. ‘Parpunguan,’ konotasina cenderung do pasif ketimbang aktif. Hombar tusi, adong ma na mangarajumi huria i songon club, songon museum manang rumah perawatan orang-orang tua. Sasintongna, huria sada gerakan do i, ai manang di dia ibana hadir, ingkon patar jala mangula do disi gerakan daya keselamatan ilahi. Dung i, sada peristiwa do huria i, ai manang di dia pe ibana jongjong ingkon masa do disi peristiwa, i ma hamubaon manang perubahan tu hatigoran, tu hasintongan dohot tu hadameon. Angkup ni i, stasiun penginjilan do huria i, di mana setiap warga melihat dan memahami dirinya sebagai orang yang diutus, yang turut dalam pekerjaan kesaksian sehingga gerakan daya keselamatan dari Tuhan menjadi nyata dalam mayarakat yang pada gilirannya akan menimbulkan perubahan ke arah keadilan, kebenaran, kedamaian, kesembuhan dan lain sebagainya. Molo ganup hita mananda dirinta songon i, ndang tarbahen so ringgas hita manghatindanghon Barita na Uli i, ringgas paluahon halak sian hatarihotanna di bagasan dosana. Dipargogoi Debata ma hita mangulahon i. Amen.



Read More..

8.14.2012

Jamita 13 Trinitatis

JAMITA MINGGU 13 TRINITATIS, 02 SEPTEMBER 2012

Jak.1:16-27



Surat Jakobus pambuatan ni jamita di hita ari on, sada surat praktis do, na marisi lan poda na jongjong sandiri, angka na so sai adong pola pardomuan ni na sada tu na sada nari, jala bersifat umum. Mangihuthon alamatna, ditongoshon do i tu na sampuludua marga na di parserahan. Disura roha ni torop halak, di mulana, sada surat Jahudi hian do i, na dipangke sahalak panurat jala diisi dohot tondi ni hakristenon. Deba sian angka sipaingotna i, naeng pamanatonta do di jamita on.



1. Asa Marpingkir Hita jala Manghatai Sintong taringot tu Debata.



Tabege nangkin, dipungka do jamita on dohot sada sipaingot na jempek, na mandok, “Unang ma hamu lilu, angka donganhu na hinaholongan!” Na marhahonaan do i tu jolo dohot tu pudi. Di ay.13 ditaringoti na adong do halak na marmingkirhon dohot manghatahon na sala taringot tu Debata, didok, na tarunjun ibana sian Debata. Na tarunjun do ibana gabe madabu tu hajahaton. Alai laho mamintori dirina, gabe didok ma na Debata do mangunjuni ibana. Marhite i hira na naeng dohononna do, pambahenan angka na roa pe, angka na mangunjuni jala na mangonjarhon jolma tu dosa dohot tu hajahaton, ro do tong sian Debata. Pingkiran dohot hata haliluon do i, jala hombar tusi ma dipasingothon si Jakobus tu huria i asa unang ma lilu. Dung i di ay.17 dihatindanghon ma na holan na denggan do ro sian Debata, didok, “Saluhutna silehonlehon na denggan, nasa ulibasa na mauliutus, i ma na ro sian ginjang, sian Ama ni na tiur, na so olo muba, na so umboto agia halilu ni hamimimbar.”

Sada sian silehonlehon na denggan manang ulibasa na mauliutus i, i ma ngolu na imbaru. Di bagasan dosa, madabu do jolma tu haburuhon, tu ngolu na berpadanan tu hamatean jala na manuju tu hamagoan na salelenglelengna. Alai di bagasan Jesus Kristus, dijadihon Debata do jolma i muse gabe na imbaru. Taringot tusi didok si Paulus do di 2 Kor.5:17, “Molo di bagasan Kristus halak, na tinompa na imbaru ma i. Nunga salpu pangalaho na robi gabe na imbaru.” Laos i ma na nidok ni si Jakobus di ayat 18 ni jamita on, “Sian tahi ni rohaNa do ditubuhon Ibana hita marhitehite hata hasintongan i, asa hita gabe hira patumonaan ni na tinompaNa.”

Apala i ma na parjolo naeng auhonon jala hangoluhononta sian jamitanta di Minggu on, asa marpingkir jala manghatai hita sintong taringot tu Debata, unang ma na sabalikna marpingkir jala manghatahon na lipe taringot tu Ibana. Ninna roha, ndang sai malua hita sian na songon i. Manang piga minggu na salpu, hujaha do komentar ni sada halak di facebook, na mandok, “Beda-beda tipis do Jahowa sian sibolis.” Molo beda-beda tipis do tutu, logikana, sarupa alai ndang dos. Sian sibolis ro do na denggan, ro dohot na roa; sian Debata pe songon i, ro do na denggan, ro dohot na roa. Pingkiran na lipe do i, na sala jala na so ojak di hasintongan. Holan angka na denggan do ro sian Debata, i ma angka na marhahonaan tu hasasaut ni sangkap hatuaonNa na taringot tu haluaonta. Molo manguhum pe Ibana sipata, molo bertindak keras marhite angka na masa, ndang adong sangkapNa anggo mandabuhon hita tu dosa manang laho mangonjarhon tu bagasan hajahaton asa mago, alai na paingothon do, asa unang tarotahi be haimbaruonta naung niasiasihonNa i. Dohot hata na asing, halilu ni holong ni rohaNa do rimasNa i laho patongonhon langkanta tu dalan hadameon.



2. Asa Taradoti Hatigoran ni Debata



Ndang dijadihon Debata jolma songon tandiang na hapuloan, na so adong pardomuanna tu na asing, alai di bagasan parsaoran do manang relasi tu Ibana dohot tu sesama. Di konteks Jakobus on, hajongjongan na songon i do na ginoar hatigoran ni Debata. Dohot hata na asing, na tigor jala na mangolu di hatigoran, i ma angka na mian di bagasan parsaoran tu Debata. Hadengganon ni pardomuan ni jolma tu Debata, tartanda jala tarsuhat do i marhitehite hadengganon ni parsaoranna tu donganna jolma.

Alai songon i ma pangalahona, di bagasan dosa, sega do parsaoran i. Mansai godang jala ragam do pangalaho na gabe panegai di parsaoran i. Sian saluhutna i, adong ma tolu na dipatujolo dison, i ma,

a. Halosohon manangihon.

b. Hagirgiron manghatai.

c. Hagirgiron tarrimas.

Sasintongna nian, ingkon gumirgir do roha ni jolma manangihon sian na manghatai. Taringot tusi, didok sada halak do, “Dilehon Debata do di hita dua pinggol, sada pamangan asa gumodang hita manangihon sian na manghatai.” Alai ternyata, torop do jolma na girgiran manghatai. So diboto dope tangkas ni parsoalan, nunga pintor dikomentari; so diboto dope ise na sala nunga pintor hebo naeng manguhumuhumi. Hagirgiron manghatai i, mansai jonok do i huhut tu rimas jala panegai situtu do i tu parsaoran.

I pe ringkot do parrohahononta, ai ndang masalpuhu ia nidok, tar na ringgas do halak hita manghatai. Memang disintasintahon angka ompunta do angka anakna asa na pistar manghatai, asa gabe raja hata, panjahajaha di bibir parpustaha di tolonan. Hombar tusi dipasingothon do tu na umposo, “Unang gulut jambar juhut, jambar hata ma.” Mansai na arga do jambar hata i di hita. Panghataion di ulaon adat, torus do hata tambaan, jala ndang hurang halak na olo manambai. Nang pe so adong na imbaru, nang pe holan sambirbir hubakhubak, sai i do mulahulak, sai dibahen be do taruna. Ra ala ni i do deba asa godang halak hita na marhasil gabe pengacara. Alai ringkot do ingotonta, margunaan do na manangihon sian na manghatai. Marhite na manangihon tamba do na binoto, ai sian na tinangihon i sai adong do informasi na imbaru. Lumobi molo angka na umpistar na tinangihon i, ndang boi so lam mamora iba di pangantusion. Sabalikna do anggo sian na manghatai, ndang tamba be sian i na binoto, ndang adong disi informasi na imbaru, ai sintap ni naung binoto i do boi hatahonon. Boha ma bahenon manghatai planet Saturnus rupani, molo so hea do ginuruhon astronomi; boha ma bahenon manaringoti tenses, molo so binoto do hata Inggris? Ala ni i, demi perkembangan ni pribadinta dohot demi hahohot ni parsaoranta, patut parrohahononta do sipaingot ni turpuk on, asa girgiran hita manangihon sian na manghatai.

Angkup ni i, siotapanta do dohot rimas. Ndang na sala nian rimas i, ai hatauon na sian Debata do i sipangkeon ni jolma laho papatarhon sogo ni rohana tu dosa dohot laho mangulahon paraloanna tu parjahat dohot hajahaton. Didok sada halak, “Kemarahan diperlukan agar dunia tidak menjadi tempat yang sangat jelek.” Alai songon i ma tong pangalahona, di bagasan dosa gabe tarramun jala tarmara do rimas i, ai gabe dipangke jolma do i tu pementingan diri sendiri, papuashon dohot palaluhon hosom, dohot papuashon ngoluna na cenderung tu na roa. Singkat ni ulaula mangalo dosa, gabe ulaula patupahon dosa nama rimas i jotjot, sisegai pardomuan dohot parsaoran. I pe tung mansai ringkot do parrohahononta, ai ndang tarhailahon, tartanda do halak hita na mura bingkas, mura tarrimas, mura piripirion, mura muruk, jala sapala muruk ndang dibereng ninna pinggolna. Molo tardege donganna pat ni sahalak hita pintor mura do gurasing mandok, “Pat ni bayo on, na so marmata do huroha pat ni on.” Ndang songon halak Jawa na lambok mandok, “Maaf Pak, kakinya di atas kaki saya.” Ninna roha, ndang holan hatahata i, alai godang do fakta na membenarkan i. Mangarimasi anakna pe sipata, ndang diboto samban; angka hata na kasar ro di hata barangsi na so sidohonon pe olo do dipambuburahon. “Sai disintakhon porhas i ma ho,” ninna rupani. Jamita on manjouhon tu hita, “Ndang diulahon rimas ni jolma hatigoran ni Debata.”



3. Asa Gabe Siulahon Hata i ma Hita



Disuanhon Debata do hataNa tu jolma bahen haluaon dohot hangoluanna. Mardomu tusi, adong ma tolu sikap na ringkot hangoluhonon ni jolma, i ma:

a. Marlambok ni roha. Ingkon paradeon ni jolma do rohana manjalo hata i. Isara tano panaburan ni boni, ingkon dipaias do i jolo, digemburkan, dibornohi. Songon i do jolma, ia naeng gabe hasonggopan dohot hatubuan ni hata i, ingkon paradeonna do roha dohot tondina ro di sandok hangoluanna.

b. Manangihon. Lapatanna, diungkap pinggolna jala dipatedek roha dohot sandok hangoluanna manjalo hata i.

c. Mangulahon hata i. Ndang sae di jolma holan na manangihon, na manohoi manang marhatopothon hata i, alai ingkon dohot do na mangulahon.

Na paotooto dirina do halak na holan manangihon alai ndang diulahon; sipalensem do i, kemunafikan. Dipatudos si Jakobus do na songon i tu halak na paberengbereng rupana di sorminan. Sorminan na pinangke ni halak di tingki i, sian tombaga do. Asing situtu do i sian sorminan kaca na tatanda nuaeng, na bontar riongriong. Ndang apala mansai tangkas i pataridahon bohi ni halak, samar-samar do. Ala ni i, jumpa di jolo ni sorminan i, boi do dibayanghon halak rupana, alai dung salpu, ndang be. Songon i ma ninna na manangihon hata i, sintap ni di tingki na manangi-hon i do marsorminan ibana tu hata i, alai dung salpu i, ndang be. Sahali nari, na paotooto dirina do na songon i. Ingkon hangoluhonon jala ulahonon ni jolma do hata ni Debata na binegena.

Contoh konkrit ni na mangulahon hata ni Tuhan i, i ma na mangulahon hadaulaton. Hadaulaton, lapatanna ibadah dalam arti yang seluas-luasnya, i ma parsombaon di gareja manang di angka inganan parpunguan dohot panghonahonna di hangoluan siapari. Ibadah na sintong ndang tarbatas i jala ndang marujung holan di inganan parsombaon i, alai ngkon na manorusi do i tu balian ni na opat dorpi ni gareja jala sahat tu hangoluan siapari. Jamita na tarbege di parmingguan, siamenhonon do i di praktek ni ngolu ariari, patik na dipatubegehon di parpunguan ingkon olohonon do i di parkarejoan manang di partigatigaan, ende manang pujipujian na dipasahat di inganan parsombaon, ingkon udutan do i di huta dohot di jabu. Dohot hata na asing, hadaulaton na sintong sipapataron do i di bagasan rumang na tarida, isara na mandulo angka na so marama so marina dohot angka na mabalu di haporsuhonnasida, dohot di parsitutuon mangaramoti diriniba maradophon portibi on unang marlindang.

I pe mansai ringkot do parohahononta, ai ndang apala pangalaho na dao i sian ngolunta. Anggo taringot tu na manangihon do, ninna roha ndang pola talu dope hita. Relatif torop dope parminggu di hurianta, angkup ni parmingguan adong angka partangiangan wjik dohot parpunguan kategorial. Angka na so puas disi, laho dope ‘jajan’ tu ibadah na asing, tole dope muse tu KKR. Alai ndang apala tardok naung tasak hita anggo di na mangulahon. George Barna Research, sada lembaga penelitian di Amerika, hea do merilis hasil penelitian taringot tu pangantusion ni parugamoon di halak Amerika. 80% halak mandok, na marugamo i ma na mandohoti kegiatan-kegiatan seremonial, 17,5% mandok, marugamo i ma na mangalului dohot mendalami lapatan ni ngolu, holan 2,5% do na mandok, marugamo i ma na manghangoluhon ngolu na marparbue jala na marlapatan tu angka na asing. Boha do ia hita? Ninna roha, ndang apala sumurung hita sian nasida. Hata ni Debata jotjot do holan konsumsi di tempat-tempat peribadahan, ndang dope anggo gabe kebutuhan siapari. Ala ni i, ndang sai tarhangoluhon hita dope hadaulaton ni na marroha manang ibadah sejati songon na pinasingothon ni si Paulus, “Pasahat hamu ma dagingmuna bahen pelean na mangolu, na badia, na hinalomohon ni Debata; i ma hadaulaton ni na marroha” (Rom 12:1) Laos ala ni i ma ndang sai haramotan hita dirinta jotjot maradophon portibi on unang marlindang. Gabe sarombang tahe jotjot dohot portibi on. Ari Minggu, Kristen yang saleh, alai sian ari Sinen tu ari Sabtu, gabe Kristen yang salah. Jamita ari on manjouhon tu hita, “Gabe siulahon hata i ma hamu, unang holan pananginangi, angka na paotootohon dirina.” Amen.





































































































Read More..

Jamita 12 Trinitatis


JAMITA 12 TRINITATIS, 26.08.2012

Ps.34:15-22



Mangihuthon isina, tarrajum do Ps.34 pambuatan ni turpuk jamita di hita ari Minggu on tu Psalmen Habisuhon (Mazmur Hikmat manang Kebijaksanaan). Angka psalmen sisongon i, na marisi pangajaran manang perenungan do taringot sadasada tema ni kesusasteraan hikmat, isara taringot tu hinauli dohot guna ni patik, taringot tu guna ni biar mida Jahowa, taringot tu hinadenggan dohot hinasonang ni parhahamaranggion, dohot angka na asing. Di Ps.34 on, di turpukta ari on khususna, dipodahon do taringot tu parasingan ni hatigoran sian hajahaton, parasingan ni partigor sian parjahat. Taringot tu na dua i, dirimpun ma di bagasan sada poda sipaingot na mandok, “Sumurut ma ho sian hajahaton jala ulahon na denggan.” Aha do hajahaton, jala aha ia hatigoran; ise jala boha do parjahat, ise jala boha muse ia partigor, jala songon dia do ngolu dohot ujungnasida sadasada? Tauji ma nuaeng pamanathon i marojahan di turpuk jamita di hita ari on.

Mangihuthon kamus, ia hajahaton i ma bangko, pangalaho dohot pambahenan na ojak di dosa, na maralo tu nilai, tu norma dohot tu uhum na sah. Sadalan tusi, ia parjahat i ma jolma na marbangko, na marpangalaho jala na mangulahon angka ulaon hajahaton na ojak di dosa, na maralo tu nilai, tu norma dohot tu uhum na sah. Sada sian rumang ni ulaon hajahaton i na martaringot di ay.22 ni turpukta ari on, na manghosom partigor, membenci orang benar. Manang na boha pe, sai na hasogohon ni parjahat do partigor, ai i do bangko dohot ngoluna. Molo taripar hita tu Padan na Imbaru, tung apala i do na dipangke Tuhanta Jesus Kristus laho manggombarhon ketegangan antara ni na porsea dohot na so porsea. Di Joh.17:14 rupani didok do, “Dihosomi portibi on do nasida, ai ndang sian portibi on nasida.” Ndang sian portibi on na porsea i, sian ginjang do, sidan Debata, ai songon on do pandok ni Evangelium Johanes taringot tusi, “Alai manang piga na manjangkon Ibana, tusi do dilehon huaso asa gabe anak ni Debata nasida, angka na porsea di goarNa. I ma angka na so tubu sian mudar, manang sian sangkap ni daging, manang sian sangkap ni baoa, tung sian Debata do.” (Joh.1:12-13). Ala asing haroroanna, asing do nilai dohot norma hidupna, asing bangko dohot pangalaho ro di pambahenanna, gabe dihosomi portibi on do nasida.

Ala na manghosomi i do ngoluna, sonang do roha ni parjahat i mangulahon hosom i. Las rohana jala marolop tondina molo boi disusai partigor i. Tutu, jotjot do marhasil nasida taringot tusi. Alai ndang torus songon i, ai adong do Debata. Na tigor do Debata, ndang adong hageduhon di bagasan Ibana. Ala ni i, ingkon aloonNa do parjahat dohot hajahaton i. “Matua alo ni angka sibahen na jat do bohi ni Jahowa,” ninna di ay.17, jala di ay.22 didok, “Sai na hamatehonon ni parjahat do hajahatonna,” lapatanna, hajahatonna i mangonai jala manginsombut tu dirina, gabe bonsir ni hamateanna. Debata sandiri pe tahe, ndang tagamon so bertindak manguhumi halak na songon i, siaphononNa baritana sian tano on. Dung i, di paruhuman sogot i, tontuhononna ma nasida songon parutang manang parsala jala siuhumon.

Mansai ringkot ma i parrohahononta asa unang mangapian hita mida parjahat. Sipata tutu, tonggi hian do idaon dosa i jala mansai tabo do na mardosa i; sipata mansai manarik do hajahaton i jala sangat menjanjikan. Sanga tombus rupani na manangko i, boi martimus dapur sataon, sahali tombus na menyelundup i, boi pintor pajongjong jabu na bolon; sanga tombus na korupsi i, boi terhimpun harta tujuh turunan. Di Padan na Robi pe, adong do i dicatat. Hombar tu pangantusion di tingki i, hamokmokon do tanda ni kesejahteraan, sipata mangiburu do roha ni partigor mamereng parjahat, ai mokmokmokmok do nasida. “Pola songon na bosol matanasida dibahen mokmokna,” ninna (Ps.73:7), sementara partigor i marniangniang sai hira na hurang gizi. Alai ndang tongtong songon i, ai adong do Debata na manguhumi. Uhum ni Debata, ndang sai didabuhon di bagasan rumangna na umbalga jala na jumorbut, isara aek na sumar di tingki ni si Noak manang udan barerang di tingki ni si Lot, alai jotjotan do di bagasan rumangna na somal isara ni akibat-akibat logis ni sadasada pambahenan. Ginisanna sisobur tuak na gabe marsahit butuha, pecandu narkotik na gabe agoan kesadaranna, manang na so paduli di habadiaon na gabe hona HIV/AIDS. Logis do i nian, alai ndang terlepas i sian uhum ni Debata. Ia so i, rohana sandiri gabe alona, ai sai busisaon patagamtagam biar so tung sadihari ro KPK manangkup jala manguhumi ibana, laos disita sude na niangkalanna. I pe, ndang terlepas i sian uhum ni Debata. Ndang sada manang dua, alai mansai torop do parjahat na so habotoan be baritana di tano on. Jala di ari sogot, tung so adong do sihirimon di angka parjahat. Ala ni i, dijouhon jamita sadari on ma tu hita, “Sumurut ma ho sian hajahaton!”

Singkat ni hajahaton, sihangoluhononta do hatigoran. Hatigoran manang hasintongan, di ay.15 digoar do huhut na denggan, i ma lomo ni roha ni Debata. Lomo ni roha ni Debata, dipapatar do i tu jolma di bagasan angka hata dohot angka tonaNa, di bagasan angka patik dohot angka uhumNa, dohot di bagasan angka bagabaga dohot angka lumbalumbaNa. Jadi bulus ma dohohon, hatigoran manang hasintongan manang na denggan i, i ma hata ni Debata; jala na mangolu di hatigoran i ma na mangulahon hata ni Debata. Ditangihon hata i, dijahai, diparsiajari, dipingkirpingkiri arian dohot borngin jala diulahon, dihonahon tu sude rumang manang konteks ni hangoluanna ariari.

Sada sian contoh konkrit ni angka ulaon hatigoran i na martaringot di turpuk on, i ma na mangalului hasonangan. Taringot tusi, didok di ay.15, “Lului hasonangan jala pareak ma i!” Hasonangan, hata heberna shaalowm lapatanna, dame manang hadameon. Angka halak na tigor sai na mangalului hadameon do i, mangalului hadengganon manang hasonangan tu donganna jolma. Ndang lomo rohana marbada manang pagulut, alai songon na nidok ni si Paulus di surat tongosanna tu halak Rom di bd.12:18, sintap ni na tarbahensa, ditiop do dame maradophon halak saluhutna. Tung apala i do tahe pokok ni kerinduan dohot giot ni rohana. Manang na sadihari pe, diupayahon do asa mangolu ibana di bagasan dame maradophon halak saluhutna. I ma na tigor, jala i ma partigor.

Alai nang pe sai hadameon i dilului jala dipareahi, ndang sai dihalomohon portibi on na porsea i. Sabalikna do tahe, songon naung tinaringotan di bagian parjolo ondeng, dihosomi do partigor i. Ala ni i, ndang sai tabo ngolu ni partigor i. Di ruhut ni hajolmaon tahe, sipata do tung mansai paet. Godang situtu sitaonon dohot parniahapanna. Ala ni godangna, pola do targoar partigor i na bojok marroha (patah hati) dohot na pogos tondi (remuk jiwanya). Nang pe songon i ndang mago partigor i, ndang ripas di tangan ni angka parjahat i, ai adong do Debata na mangondingi nasida. Jonok do Debata tu nasida, ditatap do nasida jala ditangihon joujou dohot anggukanggukna, diramoti do nasida jala dipalua sian parmaraan. Di bagasan pangondingionNa, ndang maponggol holiholina nanggo sada. Di pamingkirion ni halak Israel, tarmasuk inti ni hadirion ni jolma do holiholina. Jadi molo didok, ndang maponggol holiholina nanggo sada, na nidokna disi, ndang mahua daging dohot tondina, ndang mahua dirina.

Mardomu tusi, dijouhon jamita on ma nuaeng tu hita, tahangoluhon ma hatigoran i. Hombar tu satu-satunya contoh konkrit ni hatigoran na nilehon ni turpukta on, laos dohonon ma, taeahi jala tahangoluhon ma hadameon i. Mansai ringkot do i parrohahononta, ai ndang masalpuhu molo nidok, apala dison ma sada na jotjot tardapot hita songon parhahurangan. Baik songon warga negara bangsa, warga Batak manang pe songon warga Kristen. Sian angka bangso na asing na ro tu luatta on, sai adong do na terkesan jala manghatindanghon paboa na basar do bangsonta, na ramah, cinta dame. Las do rohanta mambege i jala tahalomohon do i. Alai molo jujur hita tu dirinta, anggo di kenyataanna ndang sai songon i, alai sipata mansai mura do hita bingkas, mura galak, mura togihonon marbada. Gari institusi na sasintongna nian patut patujolohon dame dohot hasonangan, isara lembaga-lembaga keagamaan, ndang jarang na patujolohon rimas bahkan kekerasan. Ditanda jala digoari halak do jotjot hurianta parbadabada. Tarmasuk parhalado, angka sintua, diakones, bibelvrouw, guru huria dohot angka panditana. Boasa? Sada na boi dohonon, ala kondisi na di ruar ni dirinta dope hatigoran manang hadameon i, ndang dope gabe hadirionta; gabe songon alat sambing do i jotjot na tapangke laho pasiatsiathon diri di tonga ni hajolmaon, manang songon strategi laho mangaradoti keseimbangan dohot ketenteraman antar sesama sambing, alai holan adong saotik na gitik ndang alang rohana marbada. Ala ni i, sandok sipareahanta do asa tung gabe parhadirion hatigoran hita, parhadirion hasintongan jala parhadirion hadameon anggiat haradotan jala tartiop hita dame maradophon halak saluhutna. Asa jumpang i, ingkon na ringgas do hita manangihon dohot mangguruhon hata ni Debata, ringgas manjaha, mamingkiri dohot manghangoluhonsa, manghonahonsa tu praktek ni ngolu ariari. Holan marhite na songon i do boi hita gabe parhatigoran, parhasintongan jala pardame.

Ndang na mura i, na maol do, ai songon na nidok di jolo ondeng, hombar tu bangko dohot haadongonna, sai dihosomi portibi on do na porsea i. Di bagasan hadameon pe parrona, dame dohot hasonangan pe diboan, tong do sai dicurigai. Songon i do pengalamanta jotjot di negara on. Ndang hea hita halak Kristen ala ni hakristenonta mamingkirhon na roa taringot tu bangso on, ndang hea hita ala ni hakristenonta patupa paraloan manang pemberontakan tu negara on, alai jotjot do hita dicurigai, diperlakukan songon warga negara kelas dua molo so ingkon dohonon kelas kambing. Ndang hea nian hurianta mamboan hagaoron tu sadasada luat, alai di torop inganan diambati do kehadiran dohot panghobasion ni huria i. Nang pe songon i, ndang boi so parhatopoton ni rohanta na halonganan do na masa, ai ndang gabe mansohot perkembangan ni huria i. Boasa? Ai Debata do mandongani, mangondingi, manatap, manangihon joujouna jala paluahon. Ala ni i, ndang adong alasanta mabiar manang mandele, alai ingkon sai datdatanta do na mangolu di hatigoran jala mangalului dame dohot hasonangan ni sandok hajolmaon. Dipargogoi Debata ma hita disi. Amen.





















































































Read More..

8.09.2012

Jamita Minggu 11 Trinitatis

JAMITA TU MINGGU 11 DUNG TRINITATIS, 19 AGUSTUS 2012

Poda 9:1-6



Na di ari Jumat i, ari 17 Agustus 2012 boho ma 67 taon dung na diproklamasihon kemerdekaan ni bangsonta, Negara Republik Indonesia na tahaholongi on. Manang di dia pe di Indonesia on, di pusat manang di daerah, dipatupa do upacara dohot perayaan marningot dohot manghalashon peristiwa na bersejarah i. Torop sian ruas ni bangsonta hadir do di pusat-pusat upacara dohot perayaan i. Na deba paihutihuthon sian radio manang televisi. Molo pe so diihuthon sada sian angka i, saotikotikna di bagasan rohana sai adong do pamingkirion taringot tusi, taringot tu proklamasi, kemerdekaan dohot ulang tahun.

Di ari on, nang pe naung dua ari, sai songon na di mata dope proses ni perayaan i. Saringar ni proklamasi, songon na so salpu dope sian parbinegean, jala kesan-kesan pemikiran taringot tu kemerdekaan ndang longkang dope sian roha. Godang do na paingothon hita taringot tusi. Angka tanda manang prasarana perayaan, isara ni gapura, hiasan dohot spanduk, hira so adong dope naung dibungka; manang tu dia pe hita laho, sai godang dope i dapot idaon.

Di ganup upacara peringatan i, sai dijahahon do Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Mansai ringkot do i antong, ai disi do digombarhon sangkap ni Negara Indonesia na merdeka jala na marpamarenta sandiri i. Taringot tusi, didok, “Kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Indonesia.”

Mardomu tu turpuk jamita di hita ari on, naeng pamanatonta do sangombas sada sian tujuan ni negaranta na martaringot di Pembukaan ni UUD-45 i, i ma na mandok, “Mencerdaskan kehidupan bangsa.” Cerdas mandok, sempurna perkembangan akal budinya untuk dapat berpikir dan mengerti. Jadi, na martugas do bangso dohot negaranta mangusahohon perkembangan ni akal budi ni masyarakat marhithite pendidikan, pengajaran dan pelatihan. Tontu, na disadari partoginta angka na parjolo i do hiraringkot ni kecerdasan i. Molo boi halak Bolanda na songon i otik menjajah Indonesia na songon i balga pola 350 taon, manang na boha pe adong do pardomuan ni i tu haotoon, ai manang di dia pe di portibi on sai allangallang ni na bisuk do na oto. “Na bisuk nampuna hata, na oto tu pargadisan,” ninna halak hita. Asa tung sintong do molo tung apala kecerdasan i na disurathon di Pembukaan ni UUD-45 i na ingkon ulaon ni bangso dohot negaranta na merdeka i. Taringot tusi, ndang parsoadaon nunga godang naung niula ni bangsonta jala nunga tadai parbuena. Nunga torop ruas ni bangsonta na targoar na pistar, angka sarjana, doktor dohot profesor. Alai kecerdasan dia do i, jala habisuhon na boha? Godangan do i na bersifat tano on, hapistaran dohot habisuhon portibi. Alai nuaeng, naeng taringotanta do samansam habisuhon na asing, na sian ginjang, na sian Debata. Aha ma lapatan ni habisuhon i, boha ma hita menyikapi i, jala aha ma guna ni i di hita? Tauji ma nuaeng pamanathon i marojahan tu turpuk di hita ari on.

Buku Poda (Amsal), i ma bahan parsiajaran manang pendidikan tradisional ni halak Israel. Molo tajaha jala tapamanat buku i sian bonana sahat tu ujungna, ndang tagamon so dapot rohanta na marpamusatan do i di sada hata, i ma habisuhon. Sipata didok hapistaran, sipata hapantason, sipata muse parbinotoan. (Di hata Indonesia didok hikmat, sipata kebijaksanaan, sipata muse pengetahuan). Aha do habisuhon i? Habisuhon, i ma kondisi kerohanian na patauhon jolma mangatusi dohot manghangolu-hon hasintongan ni hata ni Debata jala manghonahonsa tu praktek ni ngolu ariari. Dohot pandohan na asing, marojahan tu tangiang ni Raja Salomo di 1 Raj.3:9, habisuhon, i ma hatauon manirang na denggan sian na roa. Ndang sai nalnal parasingan ni na denggan sian na roa. Angka na uli mangihuthon adat dohot hasomalan ni hajolmaon rupani, molo diadophon tu hasintongan ni hata ni Debata, boi do i gabe na roa; songon i sabalikna, angka na sinubanghon ni jolma mangihuthon adat dohot uhum ni hajolmaon, tung apala i do pinangido ni Debata. Marhite habisuhon, gabe tandaon ni jolma ma na denggan i, tandaonna dohot na roa; dung i laos sian tondi ni habisuhon i botoonna ma mangulahon na denggan i, botoonna dohot pasiding na roa. Asa, tung mansai na arga jala na marguna situtu do habisuhon i.

Marningot arga dohot ringkotna, di sandok Buku Poda on, dipersonifikasikan do habisuhon i, lapatanna digombarhon hira sada pribadi na mangolu, na manggulmit jala na marpambahenan. I do na tarida di turpuk on, ai digombarhon do hapistaran i songon sada pribadi na pajongjong jabu. “Nunga dipanjongjong hapistaran i jabuna, jala nunga didakdak tiangna batu sipitupitu i,” ninna. Taboto do, jabu manang bagas sada sian kebutuhan utama ni hajolmaon do i. Di bangsonta rupani, sai disejajarhon do ni i tu sipanganon dohot parabiton. Sada ungkapan naung baku do di hita sandang, pangan dan papan. Di torop inganan, isara di kota-kota, justru jabu do na paling mendesak. Anggo holan laho mangan do, torop do jolma na marhais martuduk, lapatanna, na niomona na sadari i do panganonna sadari i. Sian pansarianna na mansai minim, boi do tuhoronna sakilo dua kilo boras kualitas rendah, tahu dohot tempe manang na pigangiris; anggo holan laho marabit do, adong do burjer angka na so hurang dengganna jala na mansai mura. Alai anggo jabu ingkon modal besar do asa tarpajongjong. Tung na mengontrak pe, tong do ingkon biaya tinggi. Alai manang na boha pe argana, ndang boi so ingkon adong, ai ndang tarbahen ise mangolu molo torus do di alam terbuka, torus dipadadangdadang ari jala dipaombusombus alogo, torus ditinggang udan jala disorop ombun. Di jabu do jolma i mian, disi do marsaor dohot dongan sajabu, disi mangan asa mangolu, disi martangiang jala marsaor dohot Debata, disi do angka dakdanak dipagodanggodang jala diajari asa gabe jolma na pistar jala na marroha, dipersiapkan gabe jolma na sesuai tu huria, tu masyarakat dohot bangso. Songon i ma ringkot ni jabu i. Songon ringkot ni bagas i, songon i ma digombarhon dison hinaringkot ni habisuhon, hapistaran, hapantason dohot parbinotoan di jolma. Molo bisuk jolma, molo pistar jala pantas, tarbahen i do manghangoluhon ngolu na sesuai di jolo ni Debata dohot jolma.

Dipatudos dope muse hapistaran i tu sada pribadi na patupa pesta manang partamueon. Tu sangkap i dipotong do pinahan pamuean, diparade roti dohot anggur, jala dipadiri dohot mejana. Juhut, roti dohot anggur, i do menu utama ni halak Israel, di jabu manang pe di parpestaan. Ingkon mangan do jolma asa mangolu, ndang boi so ingkon. Ndang asal sipanganon, ingkon na bergizi do. I ma na sinimbolhon ni juhut dohot roti i. Siangkup ni na mangan, mansai ringkot do huhut jolma i na marlas ni roha. Ndang na tarbayanghon hita perkembangan dohot kelangsungan ni ngolu na so hea mandai las ni roha, na torus manorus dirembe arsak dohot sitaonon, alai ingkon adong do las ni roha, agia pe mansai otik. I ma na sinimbolhon ni anggur, ai siinumon halalas ni roha do i. Molo diinum halak anggur, las ma dagingna; terangsang ma dohot syarafna gabe hinsa jala las rohana. Duansa i, sipanganon na bergizi dohot las ni roha na songon simbol ma i di pendidikan dohot pangajaran moral. Songon ringkot ni sipanganon na bergizi dohot halalas ni roha di jolma asa mangolu, asa hipas jala magodang secara sempurna, songon i ma ringkot ni pendidikan dohot pengajaran moral di sundut na umposo bahkan di sandok warga ni huria dohot masyarakat asa jumpang habisuhon manang hapantason gabe diboto manirang na denggan sian na roa jala mangolu di bagasan hatigoran dohot hasintongan. Molo songon i do, boha ma bahenonta menyikapi i?

Didok nangkin, disuru habisuhon na dipersonifikasi i do suruanna manggonghon halak tu jabu dohot tu pestana i. Hombar tusi, borhat do suruan i tu angka buntulbuntul ni huta mandok tu angka na tobok, “Ro ma hamu tuson,” jala tu angka na hurang roha, “Ro ma hamu, pangan hamu ma sian rotingku jala inum hamu sian anggur naung hupapang i.” Na tobok, di hata Indonesia didok, yang tak berpengalaman lapatanna halak na ungkap dope tu pangajaran, jala na hurang roha, hata Indonesia, yang tak berakal budi, i ma na hurang denggan dope karakter dohot moralna. Sude jolma do na nidokna disi, ai sasintongna ndang adong jolma naung tuk di parsiajaranna, alai sai na mandatdati dope saluhut. Didok na mandok, “Life long, learning task,” na nidokna disi, marsiajar saleleng mangolu. “From womb to thomb,” sian bortian sahat tu tanoman, ingkon torus marsiajar. Songon i, ndang adong jolma naung cukup denggan karakter dohot moralna, alai sai na mangeahi dope tu na sundenggan. Jadi joujou tu sude jolma do i, tu sude hita, asa mangalului habisuhon manang hapistaran. Ringkot situtu do antusanta, ia habisuhon i nda tung na diboan sasahalak i sian hatutubuna, alai silehonlehon ni Debata do i. Taringot tusi si Jakobus mandok, “Molo adong di tongatongamuna na hurangan bisuk, dipangido ma tu Debata.” Nang pe songon i ndang didekdekhon jala disuanhon Debata i songon i sambing tu sasahalak, alai siluluan do i jala siparungkilhonon marhite parsaoran na torus manorus tu Ibana di bagasan hata dohot TondiNa. Alai aha ma guna ni i?

Di jolo nunga nidok, marhite habisuhon i tarbahen jolma ma manirang na denggan sian na roa, gabe mangolu di bagasan hatigoran dohot hasintongan. Dung i, di ay.6 didok ma, “... asa mangolu hamu.” Mangolu, apala i ma guna ni habisuhon i. Molo didok mangolu, ndada holan na mandok manggulmit jala humosa, mangan jala mangula, kawin jala marpinompar, ai anggo i do, na asing i pe manggulmit do jala humosa, mangan do jala mangula, kawin do jala mamompari; alai lobi sian i na marhahonaan do i tu parsaoran tu Debatana dohot tu donganna jolma. Dohot hata na asing, mangolu mandok, taruli di hagogok ni ngolu pardagingon dohot partondion, ngolu nuaeng dohot ngolu sogot.

Apala i ma na ringkot auhonon jala hangoluhononta sian jamita on, talului ma habisuhon, hapantason, hapistaran dohot parbinotoan i asa mangolu hita. Molo mulak rohanta sangombas tu tujuan ni kemerdekaan dohot negaranta naung tinaringotan nangkin, di angka tingki na parpudi on jotjot do martaringot tolu mansam kecerdasan na taharingkothon di ngolu on, i ma kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dohot kecerdasan spritual. Marhite na tolu kecerdasan i tarbahen sasahalak do mamangke utohutokna, pingkiranna, rohana, panghilaanna ro di sandok hatauonna laho berinteraksi secara fungsional maradophon donganna jolma, maradophon na tinompa na asing, maradophon alam sekitar dohot maradophon Debata. Kecerdasan intelektual gumodang ma i dapot sian pendidikan umum, kecerdasan emosional sian pendidikan moral, jala kecerdasan spritual sian pendidikan agama. Taringot tu na parjolo, ninna roha, ndang siajaran be halak hita. Sian na jolo dope, barani do halak hita pasuda tano maraek dohot tano mahiang laho pasikolahon anakhonna. Ndang apala songon i anggo taringot tu pendidikan moral, lumobi ma taringot tu pendidikan agama. Jamita ari on manjouhon tu hita, taeahi ma perkembangan na seimbang di na tolu kecerdasan i, dung i mangolu ma hita, jumpangan di hagogok ni ngolu pardagingon dohot partondion, ngolu nuaeng dohot ngolu sogot na salelenglelengna. Amen.









Read More..

7.12.2012

6 Trinitatis

KHOTBAH MINGGU 6 TRINITATIS, 15 JULI 2012


Am.7:7-15



Ada tiga lembaga atau institusi terpenting dalam kehidupan umat Israel selaku bangsa pilihan Tuhan, yakni:

1. Raja, yang berfungsi selaku tangan kanan Allah menjalankan kemauan Tuhan di tengah-tengah umatNya.

2. Imam, yang berfungsi sebagai perantara dari fihak manusia terhadap Allah dan bertugas melayankan kebaktian atau peribadahan dengan segenap unsur-unsurnya, seperti syafaat, persembahan korban, dan sebagainya.

3. Nabi, yang berfungsi sebagai perantara dari fihak Allah terhadap manusia dan bertugas membawakan firman dan kehendak Tuhan yang bebas dan berwibawa kepada orang-orang sezamannya.

Yang rutin adalah raja dan imam, sedang nabi muncul sewaktu-waktu saja. Ketika raja atau nabi atau kedua-duanya tidak berfungsi lagi sebagaimana layaknya, ketika raja tidak bersikap lagi sebagai raja, dan imam tidak berlaku lagi sebagai imam, pada waktu itulah Tuhan memunculkan seorang nabi untuk menyampaikan firman dan kehendakNya, ancaman hukuman ataupun janji-janjiNya. Kadang-kadang nabi dipanggil dari kalangan imam, seperti Yehezkiel, namun lebih sering dari kaum awam. Amos misalnya, nabi yang menubuatkan pasal bacaan kita hari ini, adalah seorang warga biasa. Kita dengarkan tadi, dalam ay. 14-15 ia katakan, “Aku ini bukan nabi, dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi Tuhan mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba.”

Oleh Tuhan, Amos orang Tekoa dipanggil dan diutus ke kerajaan Israel Utara pada masa pemerintahan Raja Yerobeam-II. Dari sudut pandang politik dan ekonomi, Yerobeam-II adalah seorang yang sukses. Ia berhasil mempertahankan eksistensi dan wilayah kekuasaan Israel terhadap kerajaan-kerajaan sekitar serta memajukan perdagangan luar negeri, sehingga tercapai kemakmuran pada lapisan masyarakat atas Israel. Sebagai wujud pengucapan syukur dan terimakasihnya kepada Tuhan, pihak kerajaan dan golongan atas sangat menyokong kegiatan-kegiatan keagamaan. Pesta-pesta keagamaan dilaksanakan dengan seksama dan sangat meriah, korban-korban bakaran dan sembelihan dipersembahkan di bawah pimpinan para imam. Namun di pihak lain, mereka tidak peduli dengan keadilan sosial. Sebagai contoh, pedagang-pedagang kaya dengan sengaja memborong gandum pada masa panen untuk dijual pada masa paceklik. Mereka membelinya dengan batu timbangan yang lebih berat, sehingga memperoleh lebih banyak gandum, tetapi membayar sedikit. Ketika saatnya tiba, gandum itupun dijual setelah dicampur dengan gandum hampa (lapung) atau abu tanah, menggunakan batu timbangan yang lebih ringan dan dengan harga yang lebih tinggi; sehingga dengan menjual sedikit, mereka memperoleh uang yang lebih banyak. Orang-orang kaya menjadi raja-raja tega yang sampai hati menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut atau sandal sementara kerajaan bersikap masa bodoh dan melakukan pembiaran.

Ketika itulah Tuhan mengutus Amos untuk memperdengarkan keputusanNya atas bangsa itu. Sebagai seorang pengawas bangunan yang mengukur tembok dengan tali sipat untuk memastikan apakah sebuah tembok masih berdiri tegak lurus, demikianlah Tuhan mengukur bangsa Israel untuk memastikan apakah mereka masih memenuhi syarat sebagai umat pilihanNya. Tali sipat yang Ia gunakan adalah kebenaran dan keadilanNya. Dan hasilnya, laksana sebuah tembok, mereka sudah rusak, sudah berdiri miring dan membahayakan, sehingga harus diruntuhkan. “Sesungguhnya,” demikian Amos menubuatkan keputusan Tuhan, “Aku akan menaruh tali sipat di tengah-tengah umatKu Israel; Aku tidak akan memaafkannya lagi.”

Konkritisasi dari hukuman itu adalah penghancuran agama dan dinasti Israel. Dapat dikatakan, kedua hal itulah yang merupakan sogo guru kehidupan Israel, yang menjadi kebanggaan dan andalan mereka pada masa itu. Mereka bangga dan merasa aman di hadapan Tuhan karena ibadah dan kegiatan keagamaan berlangsung dengan baik, sehingga Tuhan tidak mungkin menghukum mereka. Bukankah Tuhan suka akan korban bakaran dan korban sembelihan yang mereka persembahkan? Mereka bangga dan merasa aman di hadapan bangsa-bangsa karena dinasti atau kerajaan menjamin stabilitas politik, keamanan dan perdagangan, sehingga tidak ada yang harus dikuatirkan. Tetapi Tuhan tidak dapat dikelabui dengan kegiatan-kegiatan keagamaan atau pesta-pesta kerohanian yang meriah, tidak dapat disogok dengan korban-korban bakaran atau korban sembelihan yang melimpah. “Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepadaKu korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari padaKu keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar.” (5:21-23) Menurut Amos, justru kedua hal itulah yang akan Tuhan hancurkan. Pusat-pusat pengorbanan yang sejak zaman dahulu mereka tempatkan di bukit-bukit, demikian juga tempat-tempat kudus, yakni tempat-tempat yang punya sejarah khusus dalam rangka penyataan Tuhan di tengah-tengah Israel seperti Betel dan Berseba akan dibinasakan, dinasti Yerobeam akan dihancurkan dan bangsa Israel akan dibuang.

Sebagai warga Kristen dan gereja maupun selaku warga negara bangsa Indonesia, kita perlu belajar banyak dari nubuatan Amos ini. Kita boleh bangga sebagai negara yang memiliki Pancasila sebagai dasar negara di mana ketuhanan adalah silanya yang pertama. Kita boleh membusungkan dada sebagai masyarakat yang religius. Pembangunan keagamaan diperhatikan betul, hari-hari besar keagamaan dirayakan dengan hikmad dan meriah; bukan saja oleh umat, melainkan juga oleh negara, sehingga – barangkali – Indonesialah negara yang hari liburnya paling banyak di seluruh jagat. Salam keagamaan diperdengarkan setiap saat, dalam pergaulan umum, rapat-rapat resmi dan upacara-upacara kenegaraan. Negara menyediakan dana yang melimpah untuk pembangunan rumah-rumah ibadah, pengadaan kitab suci dan pelaksanaan rukun agama. Sungguh, Indonesia adalah negara yang sangat religius. Tetapi di lain sisi, kita seharusnya malu karena negara kita termasuk yang terkorup di seluruh dunia, kita seharusnya malu apabila sekarang ini negara kita berada di bawah sorotan Komisi HAM PBB karena perlakuan tidak adil terhadap golongan minoritas, kita seharusnya malu apabila hukum di negara kita sangat tajam ke bawah tetapi sangat tumpul ke atas, kita seharusnya malu apabila pemerintah cenderung membiarkan, bahkan terkesan memfasilitasi kekerasan atas nama agama dan memberikan ruang yang seluas-luasnya terhadap intoleransi, kita seharusnya malu apabila jurang di antara si Miskin dan si Kaya semakin hari semakin dalam dan semakin menganga. Bukan karena ketiadaan sumber daya dan dana, melainkan karena ketidakadilan dan kerakusan. Mengingat itu semua, sungguh, ancaman hukuman Tuhan yang disampaikan melalui Amos berlaku juga bagi kita. Jangan salah, hukuman Tuhan tidak selamanya dijalankan dalam bentuknya yang paling dahsyat dan luar biasa seperti air bah pada zaman Nuh atau hujan belerang pada zaman Lot, akan tetapi lebih sering dalam bentuknya yang biasa, seperti akibat logis dari suatu tindakan atau kelalaian. Jika Israel pada masa Amos diancam dengan kehancuran agama dan negara, barangkali kita tidak perlu membayangkan ancaman kehancuran tempat-tempat ibadah seperti mesjid-mesjid ataupun gereja-gereja pada bangsa kita, demikian juga kehancuran pemerintah dan negara sehingga kita menjadi jajahan bangsa lain, tetapi hukuman itu boleh berlangsung dalam konteks-konteks lain. Pada pertengahan bulan yang lalu misalnya, laporan suatu komisi PBB yang menyatakan bahwa Indonesia sekarang ini berada pada tingkat danger menuju negara gagal sangat banyak dibicarakan dan dikuatirkan orang. Apabila kelak kekuatiran itu betul-betul menjadi kenyataan, Indonesia menjadi negara gagal, penyebabnya tidak perlu dicari jauh-jauh, melainkan pada kesalahan kita sendiri, kesalahan negara, kesalahan pemerintah, kesalahan kita semua. Dan semuanya itu tidak terlepas dari tindakan penghakiman dan penghukuman Tuhan pada bangsa kita. Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Kepada umat Israel, Amos berkata, “Carilah Tuhan, maka kamu akan hidup!” (2:6) Tuhan tidak hadir dalam keberagamaan yang semu, sehingga Ia tidak dapat dicari di dalam dan melalui keberagamaan yang penuh dengan kemunafikan dan kepura-puraan; Tuhan hanya mau hadir dan dapat dicari di dalam dan melalui keberagamaan yang dijalankan di dalam kebenaran dan keadilan; keberagamaan yang dihadirkan di dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, saya kira kita orang Kristen tidak dapat membanggakan diri sebagai yang lebih baik dari pada yang lain. Apabila tadi kita sudah menyinggung korupsi, di antara orang-orang yang sudah divonis pengadilan Tipikor, terdapat juga orang-orang Kristen bahkan tergolong tokoh gereja. Orang sana memang lebih banyak. Tetapi itu karena populasinya memang lebih banyak, koruptornya juga lebih banyak; populasi kita sedikit, koruptor kita juga sedikit. Sebab itu kita juga terpanggil untuk bertobat, untuk mencari Tuhan dengan segenap hati, untuk beragama di dalam kebenaran dan keadilan.

Saudara-saudara!

Kembali ke pasal bacaan kita hari ini, menjadi seorang nabi tidak gampang. Kita dengarkan tadi, setelah menyampaikan nubuatnya, oleh Amazia, kepala imam di Betel, Amos dilaporkan kepada Raja Yerobeam. “Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku, di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya,” demikian bunyi laporan itu. Tidak dilaporkan seruan Amos untuk menjalankan kebenaran dan keadilan, seruan yang seyogianya dihargai pemerintah sebagai sumbangan positif kepada pemulihan negara hukum; demikian juga tentang harapan Amos mengenai keselamatan Israel. Yang diutamakan hanyalah keamanan dan ketertiban, dan demi keamanan dan ketertiban, mulut Amos harus disumbat. Tanpa menunggu perintah raja, Amazia selaku penanggungjawab penuh tempat suci Betel langsung bertindak melarang Amos berkhotbah di situ, mempersona non gratakannya sehingga tidak boleh lagi tinggal dan bekerja di segenap wilayah kerajaan Israel Utara.

Kita orang Kristen, selaku pribadi maupun sebagai gereja adalah nabi-nabi Tuhan pada masa kini dan di sini yang terpanggil untuk memperdengarkan suara kenabian di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara. Sama seperti pengalaman Amos, hal itu tidak gampang. Suara kenabian yang disampaikan oleh orang-orang percaya, oleh gereja sebagai institusi maupun pribadi gampang saja disalahartikan oleh negara, oleh lembaga atau dinas resmi, oleh pejabat atas nama jabatan maupun atas nama pribadinya; suara kenabian sering dipandang sebagai pertanda ketidaksetiaan, sebagai upaya perlawanan bahkan suversi. Namun hal itu tidak menjadi alasan bagi kita untuk berhenti menyuarakan kebenaran dan keadilan.

Suara kenabian hendaknya kita perdengarkan juga dalam doa dan syafaat kita. Saya selalu terkesan mendengar doa dan syafat yang kita sampaikan mengenai para pemimpin dan pemerintah kita. Kita lebih sering memohon agar mereka diberi kebijaksanaan saja, seakan-akan mereka semua adalah anak-anak manis yang kurang hikmat, pada hal – kalau mau jujur – banyak di antara mereka yang lebih layak disebut sebagai orang-orang pintar yang bebal. Presiden kita banyak salah, menteri juga banyak salah, demikian juga wakil-wakil kita di DPR, gubernur hingga lurah semuanya bersalah. Belakangan ini, sebulan dua kali diadakan kebaktian di depan istana yang dilayankan oleh saudara-saudara kita GKI Yasmin dan HKBP Philadelpia. Maksudnya agar istana memperhatikan keadilan dan kebebasan di bidang keagamaan dan peribadahan. Namun hingga sekarang istana tetap bergeming. Pemerintah kita sangat bangga menyatakan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah orang miskin sudah semakin berkurang, sekarang tinggal 29 juta orang lagi; tetapi pada masa sama menutup mata terhadap kenyataan seorang ibu sangat miskin harus bunuh diri di kali Cisadane sekitar dua minggu yang lalu dengan membawa seorang anaknya yang baru berusia tiga tahun. Bukankah itu kebebalan? Untuk itu kita perlu memohon agar dosa-dosa mereka diampuni Tuhan. Biarlah melalui doa dan syafaat kita mereka menyadari bahwa mereka adalah orang berdosa terhadap Tuhan, terhadap masyarakat, bangsa dan negara. Ketahuilah, Tuhan tidak akan mengaruniakan hikmat dan kebijaksanaan kepada orang-orang yang belum diampuniNya.

Kiranya Tuhan menolong dan menguatkan kita untuk bersikap sebagai nabi-nabi pada zaman akhir. Amin.

Read More..

6.11.2012

Jamita Minggu 1 Trinitatis 2012


JAMITA MINGGU 1 TRINITATIS, 10 JUNI 2012
2 Kor.4:16-18

“Dibahen i, ndang marnaloja hami; ai lam tu burukna pe hajolmaonnami parduru i, anggo parbagasan i ariari do dipaimbaru.
Ai haporsuhonnami na martingki jala na neang porsanon, i do patupahon di hami hasangapon na sumurung, na lumobi hamuliaonna na salelenglelengna, ala hutailihon hami na so tarida i, nda tung na tarida i; ai parsatongkinan do na tarida i, alai na manongtong ro di salelenglelengna do na so tarida i.”

--oOo--

Hamu angka dongan di bagasan goar ni Tuhanta Jesus Kristus, Sipalua jala Sitobus hita!
Uju ro natorop manungkun Tuhanta Jesus mandok, “Dia ma bahenonnami asa huula hami angka ulaon lomo ni roha ni Debata?” didok Ibana do, “Haporseai hamu ma na sinuru ni Debata, i ma ulaon lomo ni rohaNa.” Sian i torang, haporseaon i do apala na parjolo na niigil ni Debata sian jolma. Di bagasan jala mangihut tusi do angka na asing, isara panghirimon, haholongon, pangoloion, dohot na asing. Jesus Kristus naung mate jala hehe dung i manaek tu surgo i do pamusatan ni haporseaon i. Na sahat do jolma tu haporseaon i ala ni pangulaon ni Tondi Porbadia na marhite Barita na Uli i. Manang ise na tangi jala ungkap tu Barita na Uli na niulahon ni Tondi Porbadia i, sahat do i tu haporseaon i. Na mangula jala na marhinorhon do haporseaon i. Si Jakobus mandok, “Haporseaon i pe songon i do, molo so adong pangulaonna naung mate do hadirionna.” Laos i do na niondolhon ni si Paulus di ay.13 na di jolo ni turpuk on – na sasintongna ndang tarsirang sian turpuk on – didok, “Alai tong do tondi haporseaon i di bagasan hami, hombar tu na tarsurat i, ‘Na porsea do ahu umbahen na huhatahon,’ hami pe na porsea do umbahen na dohot hami manghatahon.” Angka dia ma pangulaon ni haporseaon i jala aha ma panghorhon dohot guna ni i di hangoluaonta sinuaeng on? Deba sian i ma na naeng pamanatonta di jamita di hita ari on.
Hamu angka dongan!
Dipillit Tuhanta Jesus do si Paulus gabe apostelNa. Ndang lomo ni rohana i, ai silelei na porsea hian do ibana. Alai sian asi ni rohaNa na bebas, ditangkup Jesus i do ibana jala dipabangkit gabe parbarita na uli. Tohonan na balga jala marmulia do i. Alai kontrast tu hamuliaon i, di na mangulahon i, manaon do ibana, sangat menderita. Taringot tusi, didok ibana do, “Sumurung manaon renge ni ulaon nang hurungan, lumobi tu ahu linsinglinsing, jotjot do di bagasan parmaraan hamatean. Lima hali ma ahu dilinsingi halak Jahudi, opatopatpulu hurang sada. Tolu hali ahu dilasahi, sahali ahu didangguri dohot batu, tolu hali harom, saborngin sadari ahu mumbangumbang di laut ni lautan. Jotjot do ahu di pardalanan, marmara di batang aek, marmara dibahen panamun, marmara sian angka dongan sabutuha, marmara sian angka parbegu, marmara di huta, marmara di halongonan, marmara di laut, marmara di tongatonga ni dongan na so haru dongan. Di bagasan ulaon dohot hasusaan, jotjot do mangkar matangku, jotjot do mauas male dohot marpuasa, di ngali ni ari dohot na hurangan ulos.” Boasa ingkon songon i?
Ra, dohononta, “Konsekuensi ni ulaon i do i.” Toho do i, ai Tuhanta Jesus sandiri mandok, “Hosoman ni saluhut halak do hamu ala ni goarHu.” Alai, umbagas sian i do na naeng dohonon ni si Paulus dison, ai penampakan ni Kristus do i di bagasan dohot marhite ibana. Sitaon na bernit do Kristus i. Mamungka sian hatutubuNa mangonai do tu Ibana proses pematian, jala di ujungna mate do Ibana di hau pinarsilang. Taringot tusi, ndang sae i dihatindanghon, huhut do ingkon dipapatar. Ngoluna sandiri do hapataran ni i. Dohot hata na asing, keberadaan ni Kristus Jesus sitaon na bernit i, dipataridahon do i di bagasan dohot marhite keberadaan ni Apostel Paulus na tong sitaon na bernit i.  
Alai ndang holan i, keberadaan ni Kristus hangoluan i pe dipapatar do di bagasan ngolu ni apostel i. Ndang holan sitaon na bernit Kristus i, huhut do parhasangapon godang, ai hangoluan do Ibana, hangoluan ni portibi on. Na so tasirang do na dua i, hamamate dohot hangongoluNa i. Ala ni sitaonon dohot hamamateNa i do tahe umbahen na gabe hangoluan Ibana. Sahali nari, taringot tusi pe dipapatar do i di bagasan dohot marhite ngolu ni si Paulus. Gok sitaonon pe ngoluna, margogo jala marparbue situtu do ulaonna. Molo pinatudos orang perorang, ndang masalpuhu ia nidok, ibana do na gumodang mangalehon tingki dohot gogona tu ulaon panindangion i, gumanjang dalan didalani, umbidang luat diadangi mardalan pat, jala gumodang jolma dihamonangkon tu Kristus i. Di dia rahasiana? Alusna, ala di bagasan haporseaon i, papatar diri jala mangula do Kristus na mangolu i di bagasan dohot marhite Ibana. Apala i ma na nidokna di ay.10 na jolo ni turpuk on, “Tongtong do hupausungusung hami di dagingnami hamamate ni Jesus, asa patar di dagingnami nang hangongolu ni Jesus.” Laos i ma na niondolhonna di ayat na parjolo ni turpukta ari on na mandok, “Dibahen i, ndang marnaloja hami; ai lam tu burukna pe hajolmaonnami parduru i, anggo parbagasan i ariari do dipaimbaru.” Lam buruk do hajolmaonna parduru, lam gale ala ni na lam matua dohot ala ni sitaonon na so hea dipasadi. Alai sabalikna do anggo hajolmaonna parbagasan, ganup ari do dipaimbaru. Gale pe ibana, ndang gabe surut panindangion i, ndang gabe moru gogona, alai sai martambatamba do jala torus manghamonanghon halak tu Kristus i.
Hamu angka dongan!
Ndang holan si Paulus, hita pe dohot do dipabangkit Kristus gabe apostel manang sitindangi ni Barita na UliNa di tingki on. Songon sitindangiNa, hita pe, sitaon na bernit do. Ndang hapunjunganta i, alai hatopan ni angka na porsea do. Sian mulana dope, dihosomi portibi on do na porsea i, dilelei jala dipaburuburu. Dipatuduhon i do na mangonai do tu hita proses pematian. Manang songon na nidok ni si Paulus, tapausungusung do di dirinta hamamate ni Kristus. Hajolmaonta parduru i lam buruk, dung i, di sada tingki ingkon mate do hita tutu. Alai sabalikna, laos dipatuduhon do disi na so dirajai hamatean i be hita, ai manaon pe hita ndang anggo binasa, alai mangolu do di bagasan Kristus jala boi patupahon angka ulaon hagogoon, i ma na manghamonanghon jolma tu Kristus i. Na marlapatan ma i, tapausungusung do tong di bagasan dirinta haheheon dohot hangongolu ni Kristus i gabe haheheon dohot hangoluanta, gabe masa ma: Hajolmaonta parbagasan i, dipaimbaru do ganup ari. Na gabe apulapul na paposhon jala na patoguhon roha ma i di hita paboa na so tagamon siap na porsea jala mintop huria sian portibi on. Di abad 18 rupani, marbungaran do di Eropa sada poda na margoar aufklarung. Sada sian tese ni aufklarung i mandok, abad 19 nama abad na parpudi di huria, dung i mintop ma. Ternyata, salpu do abad 19 ndang mintop, marujung abad 20 tong ndang mintop, jala nuaeng nunga taripar jala mamolus di abad 21 on, ndang tarida dope (jala ndang na laho tarida) tandatanda ni huria i na laho mintop. Ndang tarsoadahon, lam rarat do nuaeng golongan na intoleran di Indosia on, martubuan barisan radikal na so manghalomohon haadongon ni huria. Marragam usaho dibahen nasida laho mangotapi missi ni huria, sementara negara atau pemerintah tidak berbuat apa-apa, cenderung melakukan pembiaran bahkan ada yang turut terlibat. Di Sumatera Utara, di mana komposisi penduduk Kristen 45%, adong do dua tolu gareja na disurbu di angka tingki parpudi on. Nambura dope tarbege, na disegel do 17 gareja di Aceh. Jala na jumonok ra tu hita, i ma na masa tu donganta na di HKBP Piladelpia Bekasi. Mamungka bona ni April na salpu, lam sobu do paraloan tu nasida. Ganup minggu do nasida digugai, disurahi, diolati, didangguri, dilelei, diteror; saotik do nasida marimbanghon na mangalo, marribu halak. Ala ni i ndang hea be nasida tulus marminggu. Marningot sobu ni paraloan i, sai longang do rohangku di na so gabe mabiar nasida jala mansohot, alai ganup minggu sai diuji nasida do ro tu pargarejaan i, sai diuji do marpungu, sai diuji marminggu, nang pe sai gagal. Nda halongangan i? Alai boasa ndang ‘jora’ nasida? Aha rahasiana? Ai Kristus Jesus Tuhan naung hehe jala mangolu i, mangolu do di bagasan nasida, mangula jala papatarhon diri di bagasan dohot marhite nasida. Ala ni i, pos do rohanta, sai na masa do torus songon na nidok ni na mandok, “Semakin dibabat, semakin merambat.” I, jala songon i ma pangulaon dohot panghorhon ni haporsean i.  
          Hamu angka dongan!
Mulak tu turpukta ari on, porsea do si Paulus na so olat ni portibi on panghirimanna di Kristus i, alai marudut do tu hatongtongon, tu tingki hasangapon na sumurung, na lumobi hamuliaonna, sipapataron sogot. Songon Tuhan Jesus Kristus naung pinahehe ni Debata sian na mate, naung manaek tu surgo jala naung gabe ulu ni huria hatopan ni halak Kristen angka na badia, paheheonNa do nang ibana sogot, boanonNa tu surgo jala pajongjongonNa raphon saluhut na porsea laho marhaladoi di adopanNa saleleng ni lelengna. Porsea jala manghirim disi, nang pe ‘leleng’ jala ‘borat’ sitaonon i, tarrajum sisatongkin do i jala na neang porsanon. Holan na porsea do na boi manghirim disi, na boi manaili tu tingki na so tarida dope jala dapotan apulapul dohot gogo sian i.
Hamu angka dongan!
Laos songon i do nang di hita, marhitehite haporseaon i adong do pos ni roha di hita taringot tu sihirimon sogot. Ndang olat ni portibi na tarida on panghirimanta, alai na marudut do tu paradianan sogot na saleleng ni lelengna. Na gabe gogo ma i di hita di na manaonhon paraloan doot di na manghatindanghon Barita na Uli i. Taadopi pe angka na maol, ndang mabiar be hita, ndang mandele manang sumurut ala tangkas taboto, na sumurung do sijaloonta. Di inganan na asing didok si Paulus do, “Ai hurajumi angka sitaonon di hasiangan on hira na so adong do martimbanghon hasangapon sipapataron tu hita sogot.” Hira na so adong, ai na martingki jala na neang porsanon do sitanonon i, alai na manongtong do siteanon sogot i, na sumurung do hasangaponnna, jala lumobi hamuliaonna.
Antong, margogohon haporseaon i, tatatap ma sihirimon sogot i, jala i ma na mewarnai ngolu dohot na menyemangati hita di paraloanta.  Molo manaon pe hita nuaeng, sabam ma rohanta ai marhasonangan do hita sogot. Ndang candu i na pasonangsonang modom, alai pamotoan na tontu do na ojak di haporseaon i. Amen.

Read More..